Kamis, 31 Januari 2019

2017. I Keep Trying to Run from The First Page until The Last Page.

Sejujurnya, ada keinginan untuk menulis semua cerita tentang tahun ini. Berhubung sebenarnya tidak dianjurkan memakai tahun masehi, tapi tetap saja dalam keseharian memakai tahun masehi, jadi intinya disini akan menceritakan satu tahun terakhir yang sudah terlewati. 2017. 

Mulai dari awal pada masa-masa SMA tingkat akhir, yang galau akan perguruan tinggi dan yang nantinya menjadi sumber perang keberuntungan dengan sesama teman sendiri dimulai. Mulai mencoba untuk rajin demi mendapatkan masa depan yang lebih baik dan pengakuan dari orang terdekat bahwa setidaknya hal ini satu-satunya jalan agar dapat mengangkat derajat keluarga dengan nama almamater yang disematkan pada seorang anak. 

Ujian-ujian akhir terus bermunculan terlebih lagi ada masa transisi menteri pendidikan yang dengan secara cepat merubah kebijakan lama dengan kebijakan yang baru membuat frustasi para siswa kelas 12 pada saat itu. Mencoba untuk tegar dan pasrah mengahadapi segala rangkaian ujian yang terasa sangat mendadak. 

Saat-saat 4 bulan itulah diuji idealisme siswa-siswi SMA kelas 12. Apakah akan mengikuti jalan yang benar atau dengan jalan yang menghalalkan segala cara agar dapat meningkatkan angka baik di catatan akhir sekolah. Diuji juga idealisme siswanya untuk mengikuti jalan bermalas-malasan mengandalkan do'a agar masuk perguruan tinggi atau berakit-rakit mengejar ilmu tetapi lupa mengejar ridho dari Tuhannya. Atau bisa jadi seimbang melakukan keduanya. 

Waktu pengumuman pertama kali tiba saat orang-orang yang cemerlang dapat perguruan tinggi yang diimpikan sedangkan orang yang kurang beruntung mulai mengejar lewat ujian lainnya. Pengumuman kedua muncul saat bulan Ramadhan dan mencoba mencari peluang agar do'a dikabulkan saat waktu-waktu mustajab. Hingga akhirnya tersisa orang-orang yang harus melalui jalan yang lebih keras lagi yang ujung-ujungnya menjadikan orang lebih rasional dalam menghadapi kenyataan hidup.

Senang dan sedih tidak lagi samar, semuanya sangat jelas. Senang dikala ada acara bazar bagi orang tertentu, senang disaat acara wisuda, senang saat prom night. Begitu juga dengan sedih saat dapat kotak merah saat pengumuman hasil seleksi perguruan tinggi. Sedih saat banyak kejadian yang tidak sesuai harapan. Sedih ada do'a-do'a tertentu yang tidak dikabulkan. 

Waktu puasa dilewati, di kala itu bertemu banyak beraneka ragam watak orang. Bercengkrama dengan orang baru. Bertemu beraneka macam permintaan-permintaan manusia yang tak pernah dikira sebelumnya. Menjadi lebih terbuka dengan siapapun. Mencoba untuk memanfaatkan waktu dengan baik di satu bulan yang penuh berkah. 

Setelah Idul Fitri, kembali ke rutinitas seperti biasa. Tapi bukan seperti biasanya lagi, karena bertemu dengan pekerjaan yang baru saat liburan yaitu menjadi pengangguran. Pengangguran yang mencoba hal-hal baru yang belum pernah dinikmati saat masih menjadi seorang siswa. Di saat itu pula, menemukan titik jenuh bertemu, berbicara, berkumpul dengan banyak orang. Entahlah sangat lelah pada saat itu. 

Liburan usai, saatnya kembali ke realita. Masuk universitas yang tak pernah diharapkan sebelumnya dan mencoba menerima apa yang sudah ditakdirkan. Bertemu orang baru, kebiasaan baru, dan cara bermain dengan cara licik yang baru ditemui. Mulai sulit menghadapi kenyataan yang terus bermunculan dan tidak bisa membedakan mana teman yang benar-benar teman sejati mana orang yang hanya mau memanfaatkan orang disekitarnya karena yang nampak terlihat seperti teman sejati. 

Idealisme dan prinsip diuji saat semester pertama. Kehilangan orang-orang yang dahulu mendukung saat bertemu kesulitan sebesar apapun. Idealisme dan prinsip yang sangat berbanding terbalik dengan lingkungan menjadikan harus banyak menguatkan diri sendiri tanpa perlu berkeluh kesah kepada orang lain karena ya itu teman sejati terlihat samar menuju palsu. 

Merutuki diri sendiri karena melihat kebodohan sendiri, melihat orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan menambah masalah kepada orang lain. Memiliki niat untuk tidak mencari masalah dengan orang lain tetapi yang lain seakan lupa kalau sedang menambah masalah si pemilik niat tidak ingin mencari masalah. Kesabaran kali ini diuji. Diangkat lalu diturunkan kembali, diangkat lalu diturunkan kembali tingkat kesabarannya. Selalu terjebak dalam kesabaran ini. 

Diberi ujian kembali di akhir tahun dengan mengharuskan mengikuti suatu kegiatan di tahun selanjutnya untuk mengganti acara angkatan sekarang karena sedang menghadapi ujian yang lain. 

Ya Allah, memang tak pernah terduga atas apa yang engkau takdirkan. Aku merasa perlu bersyukur diuji kepercayaan ini agar aku bisa kembali menguatkan hati agar lebih banyak percaya lagi atas takdir yang Engkau beri..

Tidak ada komentar: