“Jangan jadi orang yang permisif, apatis, dan skeptis“ - Abraham Samad, 2018
Alhamdulillah Selasa kemarin tanggal 13 Februari 2018 aku mendapatkan kesempatan untuk bisa hadir di seminar ‘Spirit of Indonesia‘ yang diselenggarakan oleh KAMI INDONESIA. Narasumbernya juga ga nanggung-nanggung, ada Bapak Zulkifli Hasan (Ketua MPR RI), Bapak Abraham Samad, Kang Oni dan Kang Mi’ing -dua politisi yang dahulunya berkiprah di bidang seni- , serta ada dosen dari Fakultas Dakwah UNISBA. Aku ikut seminar ini karena diajak teman sekelas dan daftarnya waktu H-1 acara wkwk. Pastinya yang menarik bagiku adalah karena dapat berkesempatan lihat langsung sosok politisi yang biasanya suka aku lihat di TV, tapi ga cuma itu aja! Aku juga penasaran apa yang akan disampaikan oleh narasumber di seminar ini.
Apa aja isinya?
Dalam seminar ini, yang paling membuat aku selalu berkata “Oh iya?, selama ini ternyata aku benar-benar tertidur panjang sampe ga melek keadaan saat ini!!!“ di dalam hati adalah dari Bapak ketua MPR dan Bapak yang pernah menjabat sebagai ketua KPK pada masanya. Kenapa? karena Bapak ketua MPR ini yang juga sebagai keynote speaker menceritakan berbagai macam permasalahan yang ada di Indonesia saat ini, salah satunya seperti kesenjangan ekonomi dan agar kita dapat memperbaiki negara ini adalah dengan masyarakatnya yang perlu diberi ilmu dan menerapkan nilai-nilai di masyarakat. Negara kita udah dalam situasi darurat!
Dari sekian banyaknya manusia di Negara Indonesia ini, yang mendapatkan pendidikan hanya sekian persen, tapi kalo udah masalah penyimpangan seperti narkoba, seks bebas, bahkan hingga LGBT ternyata banyak banget yang masuk ke lubang hitam itu. Apalagi LGBT, yang pernah melakukannya ada lima koma sekian juta orang di Indonesia! Kasus ini, tidak lain diakibatkan pengaruh media dan teman komunitasnya yang kebanyakan memberi efek buruk pada seseorang. Di sisi lain, seperti lingkungan keluarga, lembaga/instansi, lembaga agama cenderung diabaikan.
Ah jadi ingat saat sesi tanya jawab dengan dosen Pengantar Ekonomi.
Saat itu aku bertanya,
“ekonomi dengan pendidikan, ekonomi dengan kesehatan memang satu kesatuan yang tidak terpisahkan, lalu apakah pelayanan BPJS itu merupakan suatu pelayanan yang memudahkan masyarakat untuk menunjang kesehatan dalam masalah ekonomi?“ -entah redaksi aslinya seperti apa tapi intinya seperti itu-
dan dosenku menjawab,
“BPJS hanya alat yang diberikan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat mendapatkan keringanan dalam berobat dan ini bukan salah satu yang dapat menunjang kesehatan masyarakat. Untuk menunjang kesehatan, kita harus melihatnya dari sumbernya terlebih dahulu, apakah bahan pangan yang disediakan oleh pemerintah memenuhi standar kesehatan apa tidak. Pada kenyataannya orang miskin justru diberi beras raskin oleh pemerintah yang tidak terjamin apakah aman untuk dikonsumsi atau tidak” -entah redaksi aslinya seperti apa tapi intinya seperti itu-
Jadi, semua sistem yang dilaksanakan di suatu negara benar-benar perlu diperhatikan. Tidak melihat apa yang sekedar trendy pada saat ini, tapi kita harus melihat lebih dalam apa yang menjadi akar dari suatu permasalahan.
Setelah itu, Bapak Abraham Samad yang berbicara! Gak diragukan lagi jika pembawaannya beliau benar-benar tegas dan lugas! Aku sendiri benar-benar kagum sama orang-orang yang pernah bertugas di KPK sebegitu beraninya memberantas korupsi. Kenapa? karena mereka berhadapan dengan mayoritas yang memiliki perangai yang buruk. Coba ingat-ingat lagi ketika Bapak Novel Baswedan yang disiram air keras hingga matanya tidak bisa melihat di satu sisi. Sekejam itu manusia kepada orang yang punya niat baik untuk menjaga peradaban manusia agar tidak masuk kedalam jurang kegelapan, tapi yang aku lihat sepintas, beliau sangat tawadhu menghadapi musibah ini. Ah jadi inget lagi, ada juga cerita kakak kelasku yang berani melaporkan adanya bocaran kunci jawaban saat UN berlangsung dan karena hal ini, menyebabkan dia dimusuhi oleh teman-teman satu angkatannya. (Gimana kamu? Mau ingetin orang yang melakukan kesalahan aja kamu mikir dua kali karena suatu rasa yang menghampiri. Rasa…… takut)
Kembali lagi ke Bapak Abraham Samad. Bapak Abraham di seminar menjelaskan tentang pentingnya memberantar bibit korupsi pada diri sendiri dan lingkungan sekitar. Beliau memberi contoh seperti mahasiswa yang suka melakukan tipsen-menipsen. Pada presentasinya dipaparkan juga tingkat korupsi di Indonesia dibandingkan negara lain. Parahnya ya gitu lebih tinggi tingkat korupsi dibandingkan negara maju. (Padahal mayoritas muslim loh di Indonesia, bukannya jujur menjadikan ciri pribadi muslim yang baik?). Belum lagi ternyata kemiskinan di Indonesia itu masih sangat banyak! Ada sekitar 10% penduduk di Indonesia yang masih berada di garis kemiskinan. Berapa banyaknya? Ada sekitar 28 juta penduduk dan itu setara dengan jumlah penduduk di Negara Malaysia.“Kita sebagai manusia jangan jadi orang yang permisif, apatis, dan skeptis“ kata Abraham Samad. (Deg! Aku merasa tersindir karena semua sifatnya melekat di dalam diri. Hush! Hush! *ngusir*) Pada generasi saat ini, sanksi yang terikat engga lagi mempan, kita harus beri sanksi sosial terhadap orang-orang yang meakukan kesalahan. Sanksi sosial terkadang memberi efek jera yang efektif bagi pelanggarnya dan kalo engga jera-jera…. entahlah dia mungkin sudah tak tahu malu.
Setelah itu, dua politisi yang dahulunya seorang seniman juga ikut berbicara dalam seminar ini. Mereka membahas tentang kebermanfaatan manusia untuk manusia lainnya. Terakhir, ada juga dosen dari Fakultas Dakwah UNISBA yang menjelaskan tentang penerapan ilmu keislaman dalam berbagai bidang.
Seminar ini diakhiri oleh sesi tanya jawab. Aku ingin bertanya saat itu, tapi udah keduluan.
Pertanyaan aku ditujukan ke Bapak Abraham Samad.
“Yang saya amati, ternyata bahwa orang yang mengerti dasar dari suatu aturan, tidak jarang jstru mempermainkan aturan tersebut. Di lingkungan saya bahkan ada yang mempunyai prinsip ‘Peraturan dibuat untuk dilanggar’. Pertanyaannya adalah bagaimana mengokohkan prinsip kita agar tetap di jalan yang lurus dan tidak mudah goyah dengan bisikan-bisikan yang bisa mempengaruhi suatu kebijakan ke arah yang lebih buruk karena telah mengetahui dasar dari suatu aturan tersebut? “
Tapi sayangnya aku ga dapat kesempatan untuk bertanya ini….
Meski pada akhirnya aku gak diberi kesempatan untuk bertanya. Seminar ini tetap akan masuk ke dalam list pengalaman berharga di tahun 2018 ini.











