Kamis, 31 Januari 2019

Pengalaman Berharga

“Jangan jadi orang yang permisif, apatis, dan skeptis“ - Abraham Samad, 2018

Alhamdulillah Selasa kemarin tanggal 13 Februari 2018 aku mendapatkan kesempatan untuk bisa hadir di seminar ‘Spirit of Indonesia‘ yang diselenggarakan oleh KAMI INDONESIA. Narasumbernya juga ga nanggung-nanggung, ada Bapak Zulkifli Hasan (Ketua MPR RI), Bapak Abraham Samad, Kang Oni dan Kang Mi’ing -dua politisi yang dahulunya berkiprah di bidang seni- , serta ada dosen dari Fakultas Dakwah UNISBA. Aku ikut seminar ini karena diajak teman sekelas dan daftarnya waktu H-1 acara wkwk. Pastinya yang menarik bagiku adalah karena dapat berkesempatan lihat langsung sosok politisi yang biasanya suka aku lihat di TV, tapi ga cuma itu aja! Aku juga penasaran apa yang akan disampaikan oleh narasumber di seminar ini. 

Apa aja isinya?

Dalam seminar ini, yang paling membuat aku selalu berkata “Oh iya?, selama ini ternyata aku benar-benar tertidur panjang sampe ga melek keadaan saat ini!!!“ di dalam hati adalah dari Bapak ketua MPR dan Bapak yang pernah menjabat sebagai ketua KPK pada masanya. Kenapa? karena Bapak ketua MPR ini yang juga sebagai keynote speaker menceritakan berbagai macam permasalahan yang ada di Indonesia saat ini, salah satunya seperti kesenjangan ekonomi dan agar kita dapat memperbaiki negara ini adalah dengan masyarakatnya yang perlu diberi ilmu dan menerapkan nilai-nilai di masyarakat. Negara kita udah dalam situasi darurat!

Dari sekian banyaknya manusia di Negara Indonesia ini, yang mendapatkan pendidikan hanya sekian persen, tapi kalo udah masalah penyimpangan seperti narkoba, seks bebas, bahkan hingga LGBT ternyata banyak banget yang masuk ke lubang hitam itu. Apalagi LGBT, yang pernah melakukannya ada lima koma sekian juta orang di Indonesia! Kasus ini, tidak lain diakibatkan pengaruh media dan teman komunitasnya yang kebanyakan memberi efek buruk pada seseorang. Di sisi lain, seperti lingkungan keluarga, lembaga/instansi, lembaga agama cenderung diabaikan. 

Ah jadi ingat saat sesi tanya jawab dengan dosen Pengantar Ekonomi. 

Saat itu aku bertanya,
“ekonomi dengan pendidikan, ekonomi dengan kesehatan memang satu kesatuan yang tidak terpisahkan, lalu apakah pelayanan BPJS itu merupakan suatu pelayanan yang memudahkan masyarakat untuk menunjang kesehatan dalam masalah ekonomi?“ -entah redaksi aslinya seperti apa tapi intinya seperti itu-
dan dosenku menjawab,
“BPJS hanya alat yang diberikan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat mendapatkan keringanan dalam berobat dan ini bukan salah satu yang dapat menunjang kesehatan masyarakat. Untuk menunjang kesehatan, kita harus melihatnya dari sumbernya terlebih dahulu, apakah bahan pangan yang disediakan oleh pemerintah memenuhi standar kesehatan apa tidak. Pada kenyataannya orang miskin justru diberi beras raskin oleh pemerintah yang tidak terjamin apakah aman untuk dikonsumsi atau tidak” -entah redaksi aslinya seperti apa tapi intinya seperti itu- 

Jadi, semua sistem yang dilaksanakan di suatu negara benar-benar perlu diperhatikan. Tidak melihat apa yang sekedar trendy pada saat ini, tapi kita harus melihat lebih dalam apa yang menjadi akar dari suatu permasalahan.

Setelah itu, Bapak Abraham Samad yang berbicara! Gak diragukan lagi jika pembawaannya beliau benar-benar tegas dan lugas! Aku sendiri benar-benar kagum sama orang-orang yang pernah bertugas di KPK sebegitu beraninya memberantas korupsi. Kenapa? karena mereka berhadapan dengan mayoritas yang memiliki perangai yang buruk. Coba ingat-ingat lagi ketika Bapak Novel Baswedan yang disiram air keras hingga matanya tidak bisa melihat di satu sisi. Sekejam itu manusia kepada orang yang punya niat baik untuk menjaga peradaban manusia agar tidak masuk kedalam jurang kegelapan, tapi yang aku lihat sepintas, beliau sangat tawadhu menghadapi musibah ini. Ah jadi inget lagi, ada juga cerita kakak kelasku yang berani melaporkan adanya bocaran kunci jawaban saat UN berlangsung dan karena hal ini, menyebabkan dia dimusuhi oleh teman-teman satu angkatannya. (Gimana kamu? Mau ingetin orang yang melakukan kesalahan aja kamu mikir dua kali karena suatu rasa yang menghampiri. Rasa…… takut)

Kembali lagi ke Bapak Abraham Samad. Bapak Abraham di seminar menjelaskan tentang pentingnya memberantar bibit korupsi pada diri sendiri dan lingkungan sekitar. Beliau memberi contoh seperti mahasiswa yang suka melakukan tipsen-menipsen. Pada presentasinya dipaparkan juga tingkat korupsi di Indonesia dibandingkan negara lain. Parahnya ya gitu lebih tinggi tingkat korupsi dibandingkan negara maju. (Padahal mayoritas muslim loh di Indonesia, bukannya jujur menjadikan ciri pribadi muslim yang baik?). Belum lagi ternyata kemiskinan di Indonesia itu masih sangat banyak! Ada sekitar 10% penduduk di Indonesia yang masih berada di garis kemiskinan. Berapa banyaknya? Ada sekitar 28 juta penduduk dan itu setara dengan jumlah penduduk di Negara Malaysia.“Kita sebagai manusia jangan jadi orang yang permisif, apatis, dan skeptis“ kata Abraham Samad. (Deg! Aku merasa tersindir karena semua sifatnya melekat di dalam diri. Hush! Hush! *ngusir*) Pada generasi saat ini, sanksi yang terikat engga lagi mempan, kita harus beri sanksi sosial terhadap orang-orang yang meakukan kesalahan. Sanksi sosial terkadang memberi efek jera yang efektif bagi pelanggarnya dan kalo engga jera-jera…. entahlah dia mungkin sudah tak tahu malu.

Setelah itu, dua politisi yang dahulunya seorang seniman juga ikut berbicara dalam seminar ini. Mereka membahas tentang kebermanfaatan manusia untuk manusia lainnya. Terakhir, ada juga dosen dari Fakultas Dakwah UNISBA yang menjelaskan tentang penerapan ilmu keislaman dalam berbagai bidang. 

Seminar ini diakhiri oleh sesi tanya jawab. Aku ingin bertanya saat itu, tapi udah keduluan.

Pertanyaan aku ditujukan ke Bapak Abraham Samad.
“Yang saya amati, ternyata bahwa orang yang mengerti dasar dari suatu aturan, tidak jarang jstru mempermainkan aturan tersebut. Di lingkungan saya bahkan ada yang mempunyai prinsip ‘Peraturan dibuat untuk dilanggar’. Pertanyaannya adalah bagaimana mengokohkan prinsip kita agar tetap di jalan yang lurus dan tidak mudah goyah dengan bisikan-bisikan yang bisa mempengaruhi suatu kebijakan ke arah yang lebih buruk karena telah mengetahui dasar dari suatu aturan tersebut? “
Tapi sayangnya aku ga dapat kesempatan untuk bertanya ini….

Meski pada akhirnya aku gak diberi kesempatan untuk bertanya. Seminar ini tetap akan masuk ke dalam list pengalaman berharga di tahun 2018 ini.

2017. I Keep Trying to Run from The First Page until The Last Page.

Sejujurnya, ada keinginan untuk menulis semua cerita tentang tahun ini. Berhubung sebenarnya tidak dianjurkan memakai tahun masehi, tapi tetap saja dalam keseharian memakai tahun masehi, jadi intinya disini akan menceritakan satu tahun terakhir yang sudah terlewati. 2017. 

Mulai dari awal pada masa-masa SMA tingkat akhir, yang galau akan perguruan tinggi dan yang nantinya menjadi sumber perang keberuntungan dengan sesama teman sendiri dimulai. Mulai mencoba untuk rajin demi mendapatkan masa depan yang lebih baik dan pengakuan dari orang terdekat bahwa setidaknya hal ini satu-satunya jalan agar dapat mengangkat derajat keluarga dengan nama almamater yang disematkan pada seorang anak. 

Ujian-ujian akhir terus bermunculan terlebih lagi ada masa transisi menteri pendidikan yang dengan secara cepat merubah kebijakan lama dengan kebijakan yang baru membuat frustasi para siswa kelas 12 pada saat itu. Mencoba untuk tegar dan pasrah mengahadapi segala rangkaian ujian yang terasa sangat mendadak. 

Saat-saat 4 bulan itulah diuji idealisme siswa-siswi SMA kelas 12. Apakah akan mengikuti jalan yang benar atau dengan jalan yang menghalalkan segala cara agar dapat meningkatkan angka baik di catatan akhir sekolah. Diuji juga idealisme siswanya untuk mengikuti jalan bermalas-malasan mengandalkan do'a agar masuk perguruan tinggi atau berakit-rakit mengejar ilmu tetapi lupa mengejar ridho dari Tuhannya. Atau bisa jadi seimbang melakukan keduanya. 

Waktu pengumuman pertama kali tiba saat orang-orang yang cemerlang dapat perguruan tinggi yang diimpikan sedangkan orang yang kurang beruntung mulai mengejar lewat ujian lainnya. Pengumuman kedua muncul saat bulan Ramadhan dan mencoba mencari peluang agar do'a dikabulkan saat waktu-waktu mustajab. Hingga akhirnya tersisa orang-orang yang harus melalui jalan yang lebih keras lagi yang ujung-ujungnya menjadikan orang lebih rasional dalam menghadapi kenyataan hidup.

Senang dan sedih tidak lagi samar, semuanya sangat jelas. Senang dikala ada acara bazar bagi orang tertentu, senang disaat acara wisuda, senang saat prom night. Begitu juga dengan sedih saat dapat kotak merah saat pengumuman hasil seleksi perguruan tinggi. Sedih saat banyak kejadian yang tidak sesuai harapan. Sedih ada do'a-do'a tertentu yang tidak dikabulkan. 

Waktu puasa dilewati, di kala itu bertemu banyak beraneka ragam watak orang. Bercengkrama dengan orang baru. Bertemu beraneka macam permintaan-permintaan manusia yang tak pernah dikira sebelumnya. Menjadi lebih terbuka dengan siapapun. Mencoba untuk memanfaatkan waktu dengan baik di satu bulan yang penuh berkah. 

Setelah Idul Fitri, kembali ke rutinitas seperti biasa. Tapi bukan seperti biasanya lagi, karena bertemu dengan pekerjaan yang baru saat liburan yaitu menjadi pengangguran. Pengangguran yang mencoba hal-hal baru yang belum pernah dinikmati saat masih menjadi seorang siswa. Di saat itu pula, menemukan titik jenuh bertemu, berbicara, berkumpul dengan banyak orang. Entahlah sangat lelah pada saat itu. 

Liburan usai, saatnya kembali ke realita. Masuk universitas yang tak pernah diharapkan sebelumnya dan mencoba menerima apa yang sudah ditakdirkan. Bertemu orang baru, kebiasaan baru, dan cara bermain dengan cara licik yang baru ditemui. Mulai sulit menghadapi kenyataan yang terus bermunculan dan tidak bisa membedakan mana teman yang benar-benar teman sejati mana orang yang hanya mau memanfaatkan orang disekitarnya karena yang nampak terlihat seperti teman sejati. 

Idealisme dan prinsip diuji saat semester pertama. Kehilangan orang-orang yang dahulu mendukung saat bertemu kesulitan sebesar apapun. Idealisme dan prinsip yang sangat berbanding terbalik dengan lingkungan menjadikan harus banyak menguatkan diri sendiri tanpa perlu berkeluh kesah kepada orang lain karena ya itu teman sejati terlihat samar menuju palsu. 

Merutuki diri sendiri karena melihat kebodohan sendiri, melihat orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan menambah masalah kepada orang lain. Memiliki niat untuk tidak mencari masalah dengan orang lain tetapi yang lain seakan lupa kalau sedang menambah masalah si pemilik niat tidak ingin mencari masalah. Kesabaran kali ini diuji. Diangkat lalu diturunkan kembali, diangkat lalu diturunkan kembali tingkat kesabarannya. Selalu terjebak dalam kesabaran ini. 

Diberi ujian kembali di akhir tahun dengan mengharuskan mengikuti suatu kegiatan di tahun selanjutnya untuk mengganti acara angkatan sekarang karena sedang menghadapi ujian yang lain. 

Ya Allah, memang tak pernah terduga atas apa yang engkau takdirkan. Aku merasa perlu bersyukur diuji kepercayaan ini agar aku bisa kembali menguatkan hati agar lebih banyak percaya lagi atas takdir yang Engkau beri..

Rasanya Jadi..........

Dalam masa-masa hiruk pikuk menjadi mahasiswa (baru) di salah satu universitas, akhirnya bisa menyempatkan diri untuk menulis. Tulisanku mungkin sudah bisa ditebak apa poin yang ingin diceritakan benar kan?

Mulai.

Gimana rasanya jadi mahasiswa? Kalo ditanya ini inginnya jawab dengan emoticon nangis sambil ketawa. Ingin senang ga bisa, ingin nangis ga bisa, ingin marah ga bisa. Ya memang inilah tantangan dan resiko jadi mahasiswa, kegiatan baru dan pandangan orang-orang baru benar-benar mempengaruhi perubahan kepribadian sesosok manusia mungil ini.

Mulai dari awal saja sudah disuruh mengerjakan bermacam-macam tugas sampai akhirnya harus kerjain di kosan teman. Pulang malam, tidur larut malam bukan hal yang aneh lagi karena butuh untuk nugas tapi alhamdulillah belum menemukan dosen yang macam-macam seperti orang yang rewel ngidam ini itu.

Kemudian juga lingkup sosial jadi salah satu hal yg sangat berpengaruh dalam kepribadian remaja nanggung berusia 18 tahun ini. Mulai dari teman, kaka tingkat, dan seluruh aspek pendukung di lingkunganku yang sangat jauh dari kehidupan semasa sekolah. Aku harus mulai menerima ketika melihat orang sebegitu gampangnya membicarakan hal yang tabu di ruang publik, berkata lebih kasar daripada yang kemarin-kemarin yang aku lihat, perilaku yang menyimpang aku lihat sendiri di depan mata kepalaku sendiri, dan lain sebagainya. 

Aku sering berkata di dalam hati, 
“Oh aslinya gini orang teh”
“Kok bisa dia melakukan semacam itu?”
“Apa? ini hal yang biasa buat mereka?”
ditambah juga dengan mayoritas di fakultas teknik bergender laki-laki yang membuatku beristighfar setiap saat hehe (ga juga sih). Satu yang selalu aku pikirkan yaitu, “Bagaimana jaga pergaulannya?”. Kerudungku ga panjang-panjang amat kayak orang lain dan walaupun orang bilang panjang, itu semua belum menjadikan seorang perempuan terjaga dari gangguan secara menyeluruh.

Label universitas islam bukan jadi jaminan bahwa seseorang akan menjadi lebih baik, tapi setidaknya ada upaya-upaya perintis beserta petinggi-petingginya untuk menjadikan mahasiswa mengerti atau minimal tahu dengan agamanya sendiri . Ya aku bersyukur setidaknya orang yang setiap hari yang aku lihat adalah orang muslim, perempuan yang sering aku lihat suka menutup aurat, kalau begitu sebenarnya enak kan untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar kan? Namun, lagi-lagi background orang berbeda-beda, tetap saja ada yang mudah menerima jika diingatkan atau diperingatkan, ada yang masa bodo saat diberitahu, ada juga yang ngeles terus cari alasan lain biar perilaku itu keliatan ga salah.

Bagi orang yang dari luar kota pasti kenal dengan kata culture shock. Bagaimana tidak? bahasa yang dia hadapi bukan bahasa daerah yang sering mereka pakai, makanannya pun berbeda rasa dengan makanan asal daerahnya, apalagi pergaulannya dengan teman-teman yang satu nasib dari perantauan. Bagaimana denganku? Aku pun merasakan hal yang sama haha, dan karena itu aku harus menyesuaikan juga dengan orang-orang yang baru aku lihat kebudayaannya dan kebiasaannya sehari-hari.

Terakhir, hal yang sangat berpengaruh padaku sekarang adalah masalah waktu. Akhirnya aku tak harus berangkat pagi-pagi karena jadwal sekolah yang super duper mengikat. Di kuliah, jadwal lebih fleksibel waktunya (tapi makan jadi ga teratur). Jadi harusnya bisa kan ngaji di tiap waktu kosongnya? IYA BANGET harusnya BISA. Tapii….. (kalau udah tapi biasanya udah ga enak hehe..) yaaaa, inilah alasanku sebenernya adalah ga nyempetin. Haduh parah. Alasannya banyak banget, ya kalo gaada waktu untuk sendiri, ya karena nugas yang terus nambah, laporan-laporan, presentasi, dan amunisi-amunisi untuk lulus lainnya. Harus banyak belajar biar bisa luangin waktu buat ngaji harus! Nambah ilmu akhirat jangan lupa biar ga buta ilmu sama agama sendiri. 

Intinya semangat aja buat aku sendiri dan buat mahasiwa lainnya juga. Mudah-mudahan bisa menempuh ujian-ujian ini dengan lancar. Anyway, aku juga baru selesai ujian tengah semester. Nilainya gimana? Wallahu'alam. Ikhtiar sudah dijalani sekarang tinggal tawakal saja sama Allah, yang pasti ujian-ujian setelah tengah semester ini selalu tak terduga. Makanya persiapkan diri mulai dari sekarang baik ujian tulis biasanya maupun ujian kehidupan, apalagi ujian hati haha… harus kuat iman pokoknya jangan sampai terjerumus dan tertipu buaian orang-orang yang lagi kasmaraan apalagi biasanya kalo di awal-awal kuliah, orang-orang akan selalu ngincer orang yang menawan hatinya meskipun sifatnya bisa jadi sementara atau syukur-syukur langgeng sampai pelaminan. Baiknya sih langsung ke pelaminan saja ga ada masa ta'arufin dari awal semester sampe mau lulus (hehe lagi) (itumah bukan ta'aruf lagi namanya)

Selesai

Me : *talk to myself* “ Oh jadi gini rasanya jadi mahasiswa…..”

Kesan Pertama


Bismillah…

So here, I wanna tell you story about my new friend from Jakarta!

Awal pertamaku melihat kelakuanmu…… sama saja, sama dengan orang lain. Bisa jadi malah lebih parah.

Merokok
Tato
Anak Malam

Kesan pertama setelah mengenalnya beberapa hari.

Namun, semakin lama, semakin besar harapanku agar dirimu segera mendapat hidayah. Kau bilang, “aku masih belum dapat hidayah nih”, tetapi malah aku berharap besar kalau sebentar lagi kau akan mendapat hidayah dan segera hijrah. Kenapa? Karena kau sudah mulai berpikir tentang hal yang bahkan orang lain belum tentu memikirkan itu. Ketika orang lain membicarakanmu tentang anehnya perilaku dan penampilanmu berbanding terbalik dengan kelakuanmu saat memanjatkan do'a lebih lama daripada orang lain dan hal itu semakin membuatku yakin bahwa kamu juga pasti butuh Ar-Rahman dan Ar-Rahim dari-Nya.

Ditambah lagi dengan tulisanmu satu ini juga membuatku sadar bahwa tidak ada yang instan dalam menghasilkan sesuatu yang sempurna. Termasuk dalam beribadah kepada Sang Pencipta.

Dan sejujurnya aku ingin mengucapkan terima kasih untuk tulisan ini, karena tulisan ini dibuat tepat disaat aku benar benar butuh merefleksikan apa yang telahku lakukan selama ini.

Sabtu, 19 Januari 2019

Recap 2018 : It's Okay to be Different.

Di tahun 2018, banyak sekali pengalaman - pengalaman yang sangat berharga. Hal yang paling mengesankan di tahun 2018 adalah ketika saya mulai merasa hal yang berbeda dari orang-orang pada umumnya.

Menerima perbedaan itu? Tidak sama sekali, karena bukan itu yang saya mau.... tapi dengan adanya perbedaan yang dilalui dengan kebanyakan orang, terbitlah cerita-cerita baru dan pengalaman baru. Menjadi pelajaran bagi diri sendiri dan juga dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain.

Januari - Februari 2018 : Operasi dan Tekpres

Tahun baru, kembang api menemani hari-hari di rumah sakit wkwk. Iya saya mau dicabut gigi cuma susah jadinya harus dioperasi. Nah karena saya harus dirawat dari tanggal 29 Desember 2017, saya ga bisa ikut kaderisasi himpunan. Udah mohon-mohon karena alasan itu ternyata tetap harus ikut tahun 2018 bareng maba :) Ya udahlah mau gimana lagi kan.... (sambil kesel sendiri gara-gara himpunan ga ngizinin)

Terus di bulan ini juga lagi musim UAS. Ujian lah saya selama 2 minggu. Habis itu dilanjut kerja kelompok buat seminar teknik presentasi. Nah dari tekpres ini yang membuat saya belajar untuk harus banyak-banyak bersabar karena hasilnya tidak sesuai dengan ekspetasi yang dibayangkan. Pokoknya ngebatin banget ngerjain tugas matkul ini karena berbagai macam konflik diri, kelompok, dan lainnya XD.  Bahkan sampai ada yang bilang, "Oh pasti kamu ya inti kelompoknya" wkwk.

Kejadian ini membuat saya belajar menghadapi suatu masalah yang kompleks.

Setelah Seminar Tekpres

April 2018 : Pesantren


Di bulan ini saya diharuskan ikut pesantren mahasiswa baru. Lagi-lagi, setelah saya ga bisa ikut kaderisasi sama temen seangkatan, sekarang saya harus ikut pesantren yang beda gelombang dengan temen seangkatan. Waktu itu saya ga bisa ikut sama temen seangkatan karena sakit. Tempat pesantrennya agak jauh, di Ciburial. 

Akhirnya, saya ikut dua gelombang setelahnya. Saya perlu izin pula karena ga bisa ikut mata kuliah selama seminggu karena ikut pesantren. Awal dateng pesantren ini saya sempet mikir, "aku bakal punya temen ga ya?" karena di gelombang lain, yang ikutan pesantren adalah mahasiswa dari jurusan lain. Sempat ragu tapiiiiiiiii alhamdulillaaaah karena saya ketemu temen-temen dari Fakultas Ilmu Komunikasi yang sangaaat friendly bahkan sampai sekarang masih komunikasi atau nyapa sama yang lain. Oh iya, waktu saya ikut pesantren ini ada pula insiden. Kalo biasanya saya lihat bullying dari TV atau film, saya melihat sendiri ada teman sekamarku yang di-bully secara verbal. Miris. Tapi jujur saya sama sekali ga bisa ngebela dia.

Waktu itu, sempat juga tidak enak badan saya pergi ke klinik. Saya nunggu dokter datang, kebetulan di dalam Unit Kesehatan ada orang yang waktu itu kena musibah karena jatuh gara-gara takut terlambat. Kalo terlambat nanti dapat bintang (bintang adalah hukuman ketika melanggar peraturan saat masa pesantren) wkwk. Dari situ akhirnya saya juga kenal dengan orang baru lagi.

Secara tidak langsung, saya bisa menambah koneksi dan lingkar pertemanan bukan? :)

Semua dari FIKOM kecuali saya

Mei 2018 : Ekskursi dan Presentasi Tubes Statistika

Puncak dari praktikum Geologi dan Tata Lingkungan adalah ekskursi ke Cisolok, Sukabumi! Akhirnya jalan-jalan! Tapi ya sambil praktikum lapangan. Ngukur kecepatan sungai, pasang surut laut, infiltrasi, ketinggian, ngukur sumur, hahaha jalan-jalan apanya kalo gini :) Oh iya, disini saya sekelompok sama cowok semua wkwk. Berharap bakal di-treat? Jangan deh, cowok mah ga peka XD. Serius deh, cuma ditanya, "kuat Hana?", saya bilang kuat, tapi muka saya ga bisa bohong capenya kayak gimana. Ya sudahlah ga akan dibantu apa-apa kecuali kalo baru diminta tolong. Saya juga ga mau ngerepotin orang sih, kalo saya memang masih bisa sendiri, saya ga akan minta tolong ke orang lain. Di kelompok ini saya cerewet banget tapi pada ga denger karena yaa tau kan, kebayang kan, kalo cowo ga mau diatur. Overall acaranya seru, apalagi waktu foto-foto. Sayangnya ga foto sama temen sekelompok ekskursi cuma sempat foto-foto sama kelompok praktikum geoling rutin ditambah aslab.

Kelompok 1 shift Jum'at


Udah seneng-seneng tuh, eh, besoknya harus presentasi tubes statistika. Bukannya cape langsung tidur waktu pulang, tapi cape langsung beresin laporan tidur cuma 2 jam. Presentasi jam 8 pagi karena dapet urutan pertama. Sudah dipastikan karena ngerjain diwaktu deadline, dihabisilah kelompokku oleh aslab. Dikomentari dari A-Z, untungnya kelompok saya tidak ada yang saling menyalahkan karena kami cukup tau diri kalo mengerjakan tugasnya ga maksimal.

Gak cuma tentang teamwork yang didapat, tapi berusaha mencoba untuk memahami psikis setiap manusia.

 Juni 2018 : Nyoblos Pertama

Akhirnyaaa, bisa nyobain rasanya nyoblos walikota dan gubernur. 


Bekas nyelup

Juli 2018 : Memetik Strawberry, nyobain belajar gardening

Waktu ke Ciwidey bareng ibu, ibuku metik strawberry banyak banget di rumah temennya. Pulangnya, dikasih 2 pohon strawberry. Katanya untuk bisa berbuah perlu 2-3 bulan menunggu. 3 bulan terlewati, pohonnya mati karena ga dirawat :")

Ayo Han belajar gardening yang beneeer!
Pohon Strawberry di halaman rumah

Agustus 2018 : Geopark dan Belajar Menjahit

Gak pernah tahu ada tempat surga dunia sebagus Geopark Cileutuh di Sukabumi. Banyak curugnya, terus ada pantai juga. Seru juga liburan yang berhubungan dekat dengan alam. Apalagi yang tempatnya bagus banget. Lihat masterpiece buatan Sang Pencipta. Benar-benar merasa kecil lihat ciptaan-Nya sebagus dan seindah itu. 

Tempat yang cocok untuk taddabur alam.
Curug di Geopark Cileutuh

Melihat mesin jahit nganggur, saya minta ibuku daftarin saya ke tempat kursus menjahit. Materi pertama di tempat kursus jahit adalah disuruh bikin pola dasar untk blus. Agak menyebalkan sih soalnya kalo saya ngegaris ga pernah rapi, tapi saya tetap melakukannya karena ingin mencoba hal-hal yang baru. Sayang belum dilanjutkan kembali setelahnya karena liburan telah usai dan jadwal kuliah selalu bentrok dengan jadwal kursus.

Sesemangat!
Pola pertama 

Oktober 2018 : Masuk KARISMA ITB

Awalnya, waktu semester 1 saya pengen masuk KARISMA ITB, tapi qadrullah, baru dikasih kesempatan di semester 3. Sebenernya saya malu sih karena belum berkontribusi banyak di organisasi ini. 

Tapi saya berharap dengan masuk lingkaran ini, saya dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya bersama orang-orang yang InsyaAllah semuanya baik.
Setelah kaderisasi


November 2018 : Pembina apel dan ke Kampung Albino

Awal November, ada acara tahunan ekskul di SMP. Saya datang untuk ngasih sedikit materi ke adik kelas. Adik-adik ini orangnya unik-unik dan lebih canggih dari saya sendiri. Ke SMP jadi sekalian bernostalgia waktu masih sekolah. Disini saya sebagai alumni yang hadir hampir di seluruh rangkaian acara dan sebagai alumni tertua yang datang di hari pertama :) Setelah itu, di hari ke-2 diberi mandat sama ketua perintis buat jadi pembina apel. Kaget saya seketika padahal baru dateng dari rumah dengan keadaan mood yang sedang tidak baik. Mau gak mau tapi karena terpaksa jadi yaudah. Bingung sebingung-bingungnya karena di-briefing cuma sebentar dan mudah tapi pas udah mulai lupa alurnya kayak gimana. Rusak deh jadinya :) So sorry, adik-adikku :)))
Foto bersama
Muka panik bingung mau nomong apa T.T
Di hari itu juga pergi ke Garut untuk survei materi kuliah. Cari Kampung Albino untuk tugas salah satu mata kuliah. Menariknya kampung adat ini adalah karena adanya orang albino yang konon katanya ada sejarah tertentu yang membuat anak itu menjadi albino. Banyak makna-makna tersembunyi dari penelusuran kampung adat ini.

Disini ada anak albino yang namanya Ujang, kami pikir awalnya dia perempuan ternyata dia laki-laki. Temenku saking gemasnya ada yang suka mengejar dia.

Bersama ketua adat dan anaknya
Dari sini saya mulai sadar bahwa manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling megenal.


Desember 2018 : Paguyuban, Angkatan Pertama, dan Kaderisasi

Di bulan ini, sudah hampir banyak yang libur, akhirnya teman-teman di rohis punya rencana untuk kumpul bersama dan bersilaturahim karena sudah lama tidak bertemu. Berdiskusi tentang angkatan kami yang mau dibawa kemana setelahnya. Alhamdulillah banyak yang datang dan bantuin nyiapin segala perintilan untuk menjamu. Pokoknya seneng banget bisa ketemu teman hijrahku. #hiyyaaaa
Ketemu AI'17!

Pertemuan terakhir di mata kuliah Tata Pemukiman Lokal. Mata kuliah ini terbilang mata kuliah yang baru ada di kurikulum dan kami jadi angkatan pertamanya loh. Lalu hasil karya tugas kami akan dibukukan. Menurutku mata kuliah ini seru banget soalnya harus sampai survei ke Kampung Albino karena kurangnya literatur yang ada dan teman-teman disini hampir semuanya kooperatif jadi agak tidak menyulitkan yang lain waktu mengerjakan tugas.


Pertemuan terakhir di Tata Pemukiman Lokal
Kaderisasi.... akhirnya kaderisasi, akhirnya berjahim. Ga nyangka banget saya bakal nangis waktu sebelum penyematanan jahim. Malu saya sama maba asli kayaknya tuh lebay banget dipikir-pikir tapi semuanya terbayar karena sudah melewati satu tahun penatian. Disini juga untuk pertama kalinya seorang Hana bisa speak up kalo memang melakukan hal yang benar dan bisa mempertahankan argumen ketika debat dengan... adadeh hahahaha.
Akhirnya berjahim!


Intinya, ga ada yang sia-sia selama mau belajar dari perbedaan.

Kamis, 03 Januari 2019

Hati Seorang Wanita


Bandung, 17 Syawal 1438 H

Kini aku tahu rasanya menjadi bagian dari wanita di bumi ini.

Mudah rapuh.

Setiap manusia tertimpa musibah, wanitalah yang dengan mudahnya bisa mengekspresikan. Wanita akan menghukumi dirinya sendiri dan merasa itu adalah kesalahan terbesar yang ia perbuat hingga menyakiti dirinya sendiri. Wanita bukannya tidak mau berusaha tegar. Ia selalu berusaha dengan sekuat tenaga membentengi pintu air matanya agar tidak tumpah. Namun, sekali lagi, hatinya mudah rapuh. Meski dirinya terlihat tegar dan kuat di mata orang lain, tetapi raut mukanya sangat jelas menceritakan bahwa ia sedang bersedih dan bisa jadi di lain waktu ia mencurahkan isi hatinya dengan sangat emosional dimanapun dan kapanpun saat ia merasa tak sanggup lagi menahan bebannya.

Begitupun, ketika ia marah akan satu hal yang ia tak sukai. Katanya, ada 3 cara wanita melampiaskan amarah pada seseorang. Pertama, ia akan langsung mengungkapkan isi hatinya tanpa pikir panjang, tanpa henti, tanpa tahu kata yang dikeluarkannya seperti pisau yang tajam. Kedua, ia berkata semau dia & seperlunya dia seakan kata yang ia keluarkan terlalu mahal baginya. Ketiga, ia akan diam. Dia tidak mau menambah masalah kepada orang disekitarnya, tetapi sikap inilah yang paling banyak membuat disekitarnya merasa cemas dan khawatir.

Ditambah lagi dengan wanita yang merasa perlu untuk mengingat kejadian penting yang membuat ia gembira dan bersedih hati. Ketika orang lain lupa akan masa itu.

Awalnya, dengan pikiran realistisku, itu suatu hal yang kekanak-kanakan.

“Masa’ yang gini aja dipikirin?“

“Baru gitu aja nangis“
“Dasar lemah, harus kuat dong“

Begitu mengalaminya…….., dahsyat hati ini bergejolak. Ingin kutumpahkan semuanya kepada orang yang aku percayai. Akan tetapi, aku takut mereka menjadi bingung dan gelisah juga. Maka aku memilih untuk diam, sebelum kabar sedihnya diriku ada di telinga orang lain, aku harus memastikan dulu, bahwa aku bisa menanganinya sendirian. Walaupun, menyesakkan dada pada akhir keputusannya.

Setiap masalah selalu ada solusi dalam hal tersebut. Solusinya, wanita hanya perlu sabar dalam menghadapi segala macam rintangan yang akan dihadapannya. Walaupun begitu sulit, terutama untuk bisa menerima kenyataan yang dialami. Bersabarlah….. Allah selalu bersama orang yang sabar.

Wahai berlian yang mudah rapuh.

Pertemuan Singkat yang Indah

Sebelumnya tak pernah merasakan hal seperti ini

Jum’at, 24 Maret 2017

Pada suatu masa, aku duduk di salah satu masjid di kota Bandung. Hari itu, aku sedang menuggu sesuatu di sana, sampai pada akhirnya ada orang yang terlihat seperti kebingungan mencari tempat duduk dan akhirnya duduk disebelahku.

Ia sudah berancang-ancang ingin menyalamiku. Lalu kusambar saja tangan dia seraya berkata “Assalamu’alaikum….”

Selanjutnya kami pun berbincang-bincang,

*perbincangan ini samar-samar aku mengingatnya dan aku lupa siapa yang memulai duluan*


H : “Teteh namanya siapa?”

X: “Dini (seingat aku tapi kayaknya bukan ini namanya), Kalo nama teteh siapa?”

H: “Aku Hana ”

X : “Teteh kelas berapa?” (waktu itu kebetulan aku sedang memakai seragam)

H : “Kelas 12. Teteh kelas berapa?”

X : “Aku kelas 10”

H : “Oooh, kelas 10? Libur ya? SMA berapa?”

X : “SMA 4, Teteh SMA mana?”

H : “Aku SMA 2”

X : “Wah SMA 2…. pengen kesana iiih, pengen minjem buku yang di perpus masjid. Keren bisa beli sebanyak buku itu”

H : “Ayo main aja ke 2”

X : “Gak ah teh. Takut hehe”

H : “Gapapa ihh mumpung kelas 10”

Dan percakapan terus berjalan sampai membahas bazar di SMA yang ‘memilukan’, lalu menceritakan dirinya yang enggan pergi kerja kelompok dan memilih untuk pergi ke masjid, dan lain-lain.

Sebagai seorang introvert, menurutku ini adalah momen yang sangat menakjubkan karena bisa berbicara banyak dengan orang yang baru saja dikenal. Bahkan temanku yang satu kelas denganku selama 3 tahun, tidak pernah membuatku merasa nyaman didekatnya. Namun, kali ini aku sangat takjub dengan perkenalan singkat ini. Bisa bertukar informasi tanpa ada batasan dan tiba-tiba sudah merasa seperti saudara kandung.

Akhir-akhir ini juga aku ingin sekali bersilaturahim dengan orang banyak berbincang-bincang, tidak asyik dengan duniaku sendiri saja.

Ini waktu spesial dan waktu sangat berharga.karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Tidak halal bagi seseorang apabila ia memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu namun saling mengacuhkan satu sama lain dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai menegur dengan mengucapkan Salam.” (Hadits Riwayat AI Bukhari, no. 5727 dan Muslim, no. 2560)


Ya, memang apa yang mendasari orang merasakan seperti saudara adalah agamanya, karena setiap muslim itu bersaudara :)

Terharu dan senang bisa merasakan ini…..

Untukmu, semoga dirimu dilindungi oleh Allah ya dimana pun dirimu berada. Ingin rasanya bertemu kembali denganmu. Semangat mencari ilmu di usia yang masih baru remaja, bersenang-senanglah hidup di lingkup SMA, perbanyaklah relasi dengan orang lain. Semoga apa yang dirimu pajatkan dalam do’a dikabulkan oleh Allah.

Aamiin allaahumma aamiin….

Menghargai Waktu

Bandung, 20-21 Februari 2016


Dalam keadaan sadar pada saat menuju pergantian hari

“Ini mang angkot kenapa sih harus lewat jalan ini, bukan jalan pintas aja. Udah tau ada anak sekolahan, gak kasian apa kalo telat”


“Aduuuh pake berhenti segala, mati aku kalo sampe gak ikut ngaji”


“Kenapa sih mang angkot pake ngetem segala, gak pernah apa mikirin waktu orang, dasar gak ngehargain waktu orang”


Ya, itu semua adalah penuntutan aku di dalam hati kepada supir angkot yang selalu ngetem, yang kadang selalu tidak sesuai harapan.

Terutama dalam masalah menghargai waktu. Dalam benakku, aku selalu ingin supir angkot menghargai waktu penumpangnya. Padahal siapa yang tahu? Tiap orang punya masalahnya masing-masing. Punya sebuah alasan kenapa seseorang mendapatkan masalahnya. Kadang aku suka gak toleransi hal itu. Bisa jadi aku egois.

Jika boleh jujur….. aku iri dengan orang-orang selalu membawa kendaraan ini, kendaraan itu ataupun diantar. Rasanya kalau bawa kendaraan sendiri lebih efisien. Itu pandanganku terhadap orang yang membawa kendaraan pribadi.

Tapi kadang juga ada perasaan untuk hemat energi ala-ala dengan menggunakan transportasi umum dan untuk menghindari macet. Meskipun memang pada akhirnya selalu menemukan kemacetan dimana-mana. Ditambah dengan kebersihan isi angkot yang berbeda-beda membuat mati kutu gak mau pindah kemana-mana jadinya.

Salah satu yang menjadikan aku selalu “menuntut” kepada supir angkot ialah karena sering telatnya aku datang ke sekolah. Aku selalu berpikiran kalau aku bawa kendaraan pasti cepat sampai. Aku gak harus jalan dari Jalan Bapa Husen -yang nanjak- terlebih dahulu. Ya intinya, aku sangat kesal dengan supir angkot.

Serta didukung juga dengan salah satu guruku selalu beri hukuman tidak ikut mengaji pada saat jam mengaji di pagi hari dan menyuruhku untuk menunggu di luar.Memang sanksi sosial dampaknya sangat memalukan bagiku.

Namun, semakin lama, aku baru sadar jika ‘menuntut’ hal itu tidak merubah apapun. Aku baru sadar jika aku juga yang selalu meminta untuk dihargai waktunya termasuk orang yang tidak menghargai waktu. Yaitu,aku tidak menghargai waktuku kepada Allah.. semua karena… sering telat sholat shubuh….. :( ( Readers, tolong bantu do’a biar aku gak gini terus ya :( )

Ya Allah aku baru sadar jika ternyata apa yang selama ini aku bicarakan tentang pentingnya menghargai waktu orang lain tidak aku terapkan terhadap diri sendiri. Terutama menghargai waktu kepada Allah, pagi aja telat bangun gimana ga berkah pagi hari, gimana ga telat setiap hari.

Yang Menulis,

Hana

Choco Lava

Jum’at, 30 September 2016

Ada faktor-faktor yang membuatku menulis pada hari ini.
Bete ngerjain UDJ (Ujian Dalam Jaringan) karena sistem proxy atauwebsite linknya sedang error. -Mungkin admin lelah :(-
Post sebelumnya discreenshots, dikirimin ke multichat oleh salah satu follower -hehe- dan sangat malu :”)
Ngeliat tumblr daldh**en**.tumblr.com yang aku ga sangka isinya benar-benar melakonis. *poke Dinda* “Hey akhirnya Din, aku tau tumblr kamu!!! <:D Ternyata kamu salah satu stalker sejati ya :3

Then, hari ini aku bukan ingin menulis tentang resep choco lava, atau food review tentang choco lava, tapi keunikan dari choco lava.

Kau tau?

Choco lava adalah makanan sejenis kue coklat yang jika dipotong kuenya akan ada suprise didalamnya yaitu berupa saus coklat yang sangaaat lezat. Seperti temanku yang dari secara fisik biasa-biasa saja sama seperti manusia lainnya, tidak terlihat ada yang menonjol. Lalu kemarin, 29 September 2016, ia memberi sebuah suprise untuk kelas kami.

M. Alif Fauzan Aolindar

Suka dipanggil Ao oleh teman-temannya. Pada waktu pelajaran Agama ia disuruh oleh guru Agama untuk menjelaskan tentang Hari Akhir.
Apa yang menakjubkannya?

Ia menjelaskan tentang kejadian pada hari akhir dari awal sampai akhir! Menurutnya, sebenarnya penjelasan itu akan dibagi menjadi 3 part untuk program mentoring yaitu program ekskul rohis di sekolah kami yang seharusnya per bagiannya dijadwalkan memakan waktu 2 jam. Lalu, ia menjelaskannya di kelas dalam waktu kurang lebih 135 menit!

tidak hanya itu, ia menjelaskan sangat panjang dan membuat orang selalu penasaran dengan rangkaian ceritanya.

“Ao, kalo……….. gimana?”

“Terus habis itu gimana?”

“Sut ih! sok lanjutin Lif”


Aku sama sekali tidak menyangka 20 sekian orang mampu memberi perhatian, mendengarkan, menyimak apa yang dibicarakan olehnya.

Hingga pada saat ¾ cerita sudah dijelaskan olehnya. Guru Agama memotong penjelasannya.

Kurang lebih seperti ini,
“Maaf, Bapak ada keperluan lain, jadi Bapak pamit duluan. Kalo mau dilanjutin, mangga, tapi Bapak keluar duluan, ya? Assalamu’alaikum”

Apa yang terjadi?

Setelah bapak keluar dari kelas, Alif bertanya pada teman-temannya,

“Mau dilanjutin ga ceritanya?”

Jawaban mereka,

“Sok lanjutin Lif”

Aku cuma bisa tercengang. Semenarik itukah?

Akhirnya ia menjelaskan sampai akhir.

Sampai keluar kelas ia berkata,

A: “Han, itu teh 3 part buat mentoring dirapel jadi satu hari”

H: “Oh, iya? tapi bisaan ya Lif bikin 20 sekian orang merhatiin kamu”

A: “Eta teh dakwah, nyak?”

H: “Iya”


Bagiku, Allah memberikan ujian kekurangan kepada hambanya agar ia mau belajar, menjadikannya sebagai orang yang kuat, dan selalu mensyukuri apa yang ia dapat.

Bagiku, Allah memberikan ujian kelebihan agar ia bisa memanfaatkannya dengan baik, menahan untuk tidak ujub, tidak sombong, dan tidak melupakan-Nya dengan cara selalu bersyukur.

Point penting lainnya yaitu, bahwa ikhitiar atau usaha tidak akan mengkhianati hasil. 

Kenapa jadi membahas kelebihan dan kekurangan?

Pelajaran yang saya dapatkan saat itu,

Apa yang ia baca dahulu tidak sia-sia karena hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Tapi, juga bermanfaat juga bagi orang lain.

Ikhtiar dia untuk mencari rahasia tentang hari akhir, membawa ia membaca buku tentang hari akhir di perpustakaan masjid. Lalu setelah ilmunya terserap, ilmunya membawa ia untuk disebarkan kepada orang lain. Dia itu nadanya bicaranya annoying banget sampai bikin teman-temannya kesal. Tapi, dia bisa nunjukin kalo dia sama sekali tidak mempermasalahkan judgement itu.

Ia pun mau untuk belajar dari kesalahan pada pertma ia menjadi pementor.

Seperti choco lava, kekurangan bisa membungkus kelebihan ataupun sebaliknya kelebihan membungkus kekurangan. Tiap manusia punya kejutannya masing-masing :)

Oh Flashdisk-ku Malang, Oh Flashdisk-ku Hilang


Rabu, 3 Februari 2016

Disini, aku bukan mau menulis tentang kronologis hilangnya flashdisk aku yang berwarna hitam dengan sesuatu berwarna merah entah apa namanya beserta gantungannya berwarna abu-abu bertuliskan “lock&lock”, serta body masih mulus(?). Tapi, disini aku mau menceritakan tentang hikmah dari hilangnya flashdisk di kelas. Walaupun, sebenarnya tidak rela dan tidak ingin merasakan kehilangan flashdisk untuk kedua kalinya :’(. Itu beli pakai uang orang tua. Jadi, aku takut bilangnya kalau hilang :(

Bermula dari flashdisk yang tak kunjung ketemu yang sudah hilang selama satu bulan, akupun mulai ada niatan untuk mencari di setiap sudut kelasnya. Mulai mencurigai kalau flashdisk itu hilang di kolong-kolong meja. Satu-satu cari tiap kolong pakai sapu karena kolong-kolong meja di sekolah numpuk sama sampah. Apalagi sama sampah brosur dari bimbel.

Dua kolong meja bisa menghasilkan puluhan sampah. Hingga akhirnya, saat 2 kolong meja dari seluruh meja di kelas sudah bersih. Belum ketemu juga flashdisk ini. Hingga akhirnya ada temanku yang mulai melihat gerak-gerikku.

Dia nanya, “ lagi bersih-bersih?”

“engga, nyari flashdisk”, kata aku

Tapi, entah kenapa ia mulai bantu-bantu bersihin kolong meja. Entah untuk bantu aku cari flashdisk, entah niatnya pingin bersih-bersih, entah niatnya untuk bersih-bersih sambil nyari flashdisk. 9-10 kolong meja sudah bersih tapi kalau lihat kebawah, lantai penuh sama sampah.

Akhirnya, saat ada teman yang sedang asyik ngobrol, mungkin mereka mulai sadar dan peduli untuk membersihkan kelas dan ‘watireun’ melihat aku nyapu sendirian (padahal niatnya cuma mau nyari flashdisk). Satu persatu mereka bantu mengeluarkan sampah dari dalam kelas. Senang bukan main :)).

“Hana, aku bantuin ya!”

Hingga hampir semua orang di kelas pada bantu-bantu. Meskipun ada 1-2 orang yang tidak bergerak 1 meter pun dari tempat duduknya. Jadi semuanya pada piket kelas! dan ada suatu insiden kecil disitu. Yaitu, bau yang tidak sedap sampai teman-teman pada keluar kelas. Disebabkan makanan yang sudah busuk. Aku sibuk nyapu terus dan gak merasakan bau apapun karena aku pakai masker hehe.

Dari situ, aku belajar. Hidup orang tuh pasti ingin bersih. Tapi, tidak sedikit yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar atau karena merasa jijik melihat keadaan yang sudah kotor. Untuk itu, butuh satu orang jadi volunteer untuk peduli terhadap lingkungan masing-masing (tetep aja niatan aku nyari flashdisk :|, jadi bersih-bersih kalo ada sesuatu aja ). Semoga kita semakin sadar akan kebersihan lingkungan sekitar.

Sudah takdir yang diberikan Allah flashdisk-ku hilang, dan sudah takdir yang diberikan Allah pula yang membuatku mencari flashdisk itu dan berbelok arah menjadi kegiatan bersih-bersih kelas karena Allah telah menggerakan hati kami disini untuk membersihkan kelas. Aku sangat bersyukur untuk itu. Dan juga, mungkin sudah takdir untukku karena flashdisk-ku hilang dan ternyata sampai sekarang belum juga ketemu.

Salah satu do’aku untuk mereka ialah
“Ya Allah, muliakanlah mereka yang telah membantu, dan mudahkanlah jalan mereka di dunia dan di akhirat”.
Aamiin……

Sekian cerita hari ini dan satu hal yang penting adalah PERTOLONGAN ALLAH ITU DEKAT.

…….Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya, Allah amat berat siksa-Nya.“ – (QS.5:2)