Sabtu, 19 Januari 2019

Recap 2018 : It's Okay to be Different.

Di tahun 2018, banyak sekali pengalaman - pengalaman yang sangat berharga. Hal yang paling mengesankan di tahun 2018 adalah ketika saya mulai merasa hal yang berbeda dari orang-orang pada umumnya.

Menerima perbedaan itu? Tidak sama sekali, karena bukan itu yang saya mau.... tapi dengan adanya perbedaan yang dilalui dengan kebanyakan orang, terbitlah cerita-cerita baru dan pengalaman baru. Menjadi pelajaran bagi diri sendiri dan juga dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain.

Januari - Februari 2018 : Operasi dan Tekpres

Tahun baru, kembang api menemani hari-hari di rumah sakit wkwk. Iya saya mau dicabut gigi cuma susah jadinya harus dioperasi. Nah karena saya harus dirawat dari tanggal 29 Desember 2017, saya ga bisa ikut kaderisasi himpunan. Udah mohon-mohon karena alasan itu ternyata tetap harus ikut tahun 2018 bareng maba :) Ya udahlah mau gimana lagi kan.... (sambil kesel sendiri gara-gara himpunan ga ngizinin)

Terus di bulan ini juga lagi musim UAS. Ujian lah saya selama 2 minggu. Habis itu dilanjut kerja kelompok buat seminar teknik presentasi. Nah dari tekpres ini yang membuat saya belajar untuk harus banyak-banyak bersabar karena hasilnya tidak sesuai dengan ekspetasi yang dibayangkan. Pokoknya ngebatin banget ngerjain tugas matkul ini karena berbagai macam konflik diri, kelompok, dan lainnya XD.  Bahkan sampai ada yang bilang, "Oh pasti kamu ya inti kelompoknya" wkwk.

Kejadian ini membuat saya belajar menghadapi suatu masalah yang kompleks.

Setelah Seminar Tekpres

April 2018 : Pesantren


Di bulan ini saya diharuskan ikut pesantren mahasiswa baru. Lagi-lagi, setelah saya ga bisa ikut kaderisasi sama temen seangkatan, sekarang saya harus ikut pesantren yang beda gelombang dengan temen seangkatan. Waktu itu saya ga bisa ikut sama temen seangkatan karena sakit. Tempat pesantrennya agak jauh, di Ciburial. 

Akhirnya, saya ikut dua gelombang setelahnya. Saya perlu izin pula karena ga bisa ikut mata kuliah selama seminggu karena ikut pesantren. Awal dateng pesantren ini saya sempet mikir, "aku bakal punya temen ga ya?" karena di gelombang lain, yang ikutan pesantren adalah mahasiswa dari jurusan lain. Sempat ragu tapiiiiiiiii alhamdulillaaaah karena saya ketemu temen-temen dari Fakultas Ilmu Komunikasi yang sangaaat friendly bahkan sampai sekarang masih komunikasi atau nyapa sama yang lain. Oh iya, waktu saya ikut pesantren ini ada pula insiden. Kalo biasanya saya lihat bullying dari TV atau film, saya melihat sendiri ada teman sekamarku yang di-bully secara verbal. Miris. Tapi jujur saya sama sekali ga bisa ngebela dia.

Waktu itu, sempat juga tidak enak badan saya pergi ke klinik. Saya nunggu dokter datang, kebetulan di dalam Unit Kesehatan ada orang yang waktu itu kena musibah karena jatuh gara-gara takut terlambat. Kalo terlambat nanti dapat bintang (bintang adalah hukuman ketika melanggar peraturan saat masa pesantren) wkwk. Dari situ akhirnya saya juga kenal dengan orang baru lagi.

Secara tidak langsung, saya bisa menambah koneksi dan lingkar pertemanan bukan? :)

Semua dari FIKOM kecuali saya

Mei 2018 : Ekskursi dan Presentasi Tubes Statistika

Puncak dari praktikum Geologi dan Tata Lingkungan adalah ekskursi ke Cisolok, Sukabumi! Akhirnya jalan-jalan! Tapi ya sambil praktikum lapangan. Ngukur kecepatan sungai, pasang surut laut, infiltrasi, ketinggian, ngukur sumur, hahaha jalan-jalan apanya kalo gini :) Oh iya, disini saya sekelompok sama cowok semua wkwk. Berharap bakal di-treat? Jangan deh, cowok mah ga peka XD. Serius deh, cuma ditanya, "kuat Hana?", saya bilang kuat, tapi muka saya ga bisa bohong capenya kayak gimana. Ya sudahlah ga akan dibantu apa-apa kecuali kalo baru diminta tolong. Saya juga ga mau ngerepotin orang sih, kalo saya memang masih bisa sendiri, saya ga akan minta tolong ke orang lain. Di kelompok ini saya cerewet banget tapi pada ga denger karena yaa tau kan, kebayang kan, kalo cowo ga mau diatur. Overall acaranya seru, apalagi waktu foto-foto. Sayangnya ga foto sama temen sekelompok ekskursi cuma sempat foto-foto sama kelompok praktikum geoling rutin ditambah aslab.

Kelompok 1 shift Jum'at


Udah seneng-seneng tuh, eh, besoknya harus presentasi tubes statistika. Bukannya cape langsung tidur waktu pulang, tapi cape langsung beresin laporan tidur cuma 2 jam. Presentasi jam 8 pagi karena dapet urutan pertama. Sudah dipastikan karena ngerjain diwaktu deadline, dihabisilah kelompokku oleh aslab. Dikomentari dari A-Z, untungnya kelompok saya tidak ada yang saling menyalahkan karena kami cukup tau diri kalo mengerjakan tugasnya ga maksimal.

Gak cuma tentang teamwork yang didapat, tapi berusaha mencoba untuk memahami psikis setiap manusia.

 Juni 2018 : Nyoblos Pertama

Akhirnyaaa, bisa nyobain rasanya nyoblos walikota dan gubernur. 


Bekas nyelup

Juli 2018 : Memetik Strawberry, nyobain belajar gardening

Waktu ke Ciwidey bareng ibu, ibuku metik strawberry banyak banget di rumah temennya. Pulangnya, dikasih 2 pohon strawberry. Katanya untuk bisa berbuah perlu 2-3 bulan menunggu. 3 bulan terlewati, pohonnya mati karena ga dirawat :")

Ayo Han belajar gardening yang beneeer!
Pohon Strawberry di halaman rumah

Agustus 2018 : Geopark dan Belajar Menjahit

Gak pernah tahu ada tempat surga dunia sebagus Geopark Cileutuh di Sukabumi. Banyak curugnya, terus ada pantai juga. Seru juga liburan yang berhubungan dekat dengan alam. Apalagi yang tempatnya bagus banget. Lihat masterpiece buatan Sang Pencipta. Benar-benar merasa kecil lihat ciptaan-Nya sebagus dan seindah itu. 

Tempat yang cocok untuk taddabur alam.
Curug di Geopark Cileutuh

Melihat mesin jahit nganggur, saya minta ibuku daftarin saya ke tempat kursus menjahit. Materi pertama di tempat kursus jahit adalah disuruh bikin pola dasar untk blus. Agak menyebalkan sih soalnya kalo saya ngegaris ga pernah rapi, tapi saya tetap melakukannya karena ingin mencoba hal-hal yang baru. Sayang belum dilanjutkan kembali setelahnya karena liburan telah usai dan jadwal kuliah selalu bentrok dengan jadwal kursus.

Sesemangat!
Pola pertama 

Oktober 2018 : Masuk KARISMA ITB

Awalnya, waktu semester 1 saya pengen masuk KARISMA ITB, tapi qadrullah, baru dikasih kesempatan di semester 3. Sebenernya saya malu sih karena belum berkontribusi banyak di organisasi ini. 

Tapi saya berharap dengan masuk lingkaran ini, saya dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya bersama orang-orang yang InsyaAllah semuanya baik.
Setelah kaderisasi


November 2018 : Pembina apel dan ke Kampung Albino

Awal November, ada acara tahunan ekskul di SMP. Saya datang untuk ngasih sedikit materi ke adik kelas. Adik-adik ini orangnya unik-unik dan lebih canggih dari saya sendiri. Ke SMP jadi sekalian bernostalgia waktu masih sekolah. Disini saya sebagai alumni yang hadir hampir di seluruh rangkaian acara dan sebagai alumni tertua yang datang di hari pertama :) Setelah itu, di hari ke-2 diberi mandat sama ketua perintis buat jadi pembina apel. Kaget saya seketika padahal baru dateng dari rumah dengan keadaan mood yang sedang tidak baik. Mau gak mau tapi karena terpaksa jadi yaudah. Bingung sebingung-bingungnya karena di-briefing cuma sebentar dan mudah tapi pas udah mulai lupa alurnya kayak gimana. Rusak deh jadinya :) So sorry, adik-adikku :)))
Foto bersama
Muka panik bingung mau nomong apa T.T
Di hari itu juga pergi ke Garut untuk survei materi kuliah. Cari Kampung Albino untuk tugas salah satu mata kuliah. Menariknya kampung adat ini adalah karena adanya orang albino yang konon katanya ada sejarah tertentu yang membuat anak itu menjadi albino. Banyak makna-makna tersembunyi dari penelusuran kampung adat ini.

Disini ada anak albino yang namanya Ujang, kami pikir awalnya dia perempuan ternyata dia laki-laki. Temenku saking gemasnya ada yang suka mengejar dia.

Bersama ketua adat dan anaknya
Dari sini saya mulai sadar bahwa manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling megenal.


Desember 2018 : Paguyuban, Angkatan Pertama, dan Kaderisasi

Di bulan ini, sudah hampir banyak yang libur, akhirnya teman-teman di rohis punya rencana untuk kumpul bersama dan bersilaturahim karena sudah lama tidak bertemu. Berdiskusi tentang angkatan kami yang mau dibawa kemana setelahnya. Alhamdulillah banyak yang datang dan bantuin nyiapin segala perintilan untuk menjamu. Pokoknya seneng banget bisa ketemu teman hijrahku. #hiyyaaaa
Ketemu AI'17!

Pertemuan terakhir di mata kuliah Tata Pemukiman Lokal. Mata kuliah ini terbilang mata kuliah yang baru ada di kurikulum dan kami jadi angkatan pertamanya loh. Lalu hasil karya tugas kami akan dibukukan. Menurutku mata kuliah ini seru banget soalnya harus sampai survei ke Kampung Albino karena kurangnya literatur yang ada dan teman-teman disini hampir semuanya kooperatif jadi agak tidak menyulitkan yang lain waktu mengerjakan tugas.


Pertemuan terakhir di Tata Pemukiman Lokal
Kaderisasi.... akhirnya kaderisasi, akhirnya berjahim. Ga nyangka banget saya bakal nangis waktu sebelum penyematanan jahim. Malu saya sama maba asli kayaknya tuh lebay banget dipikir-pikir tapi semuanya terbayar karena sudah melewati satu tahun penatian. Disini juga untuk pertama kalinya seorang Hana bisa speak up kalo memang melakukan hal yang benar dan bisa mempertahankan argumen ketika debat dengan... adadeh hahahaha.
Akhirnya berjahim!


Intinya, ga ada yang sia-sia selama mau belajar dari perbedaan.

Kamis, 03 Januari 2019

Hati Seorang Wanita


Bandung, 17 Syawal 1438 H

Kini aku tahu rasanya menjadi bagian dari wanita di bumi ini.

Mudah rapuh.

Setiap manusia tertimpa musibah, wanitalah yang dengan mudahnya bisa mengekspresikan. Wanita akan menghukumi dirinya sendiri dan merasa itu adalah kesalahan terbesar yang ia perbuat hingga menyakiti dirinya sendiri. Wanita bukannya tidak mau berusaha tegar. Ia selalu berusaha dengan sekuat tenaga membentengi pintu air matanya agar tidak tumpah. Namun, sekali lagi, hatinya mudah rapuh. Meski dirinya terlihat tegar dan kuat di mata orang lain, tetapi raut mukanya sangat jelas menceritakan bahwa ia sedang bersedih dan bisa jadi di lain waktu ia mencurahkan isi hatinya dengan sangat emosional dimanapun dan kapanpun saat ia merasa tak sanggup lagi menahan bebannya.

Begitupun, ketika ia marah akan satu hal yang ia tak sukai. Katanya, ada 3 cara wanita melampiaskan amarah pada seseorang. Pertama, ia akan langsung mengungkapkan isi hatinya tanpa pikir panjang, tanpa henti, tanpa tahu kata yang dikeluarkannya seperti pisau yang tajam. Kedua, ia berkata semau dia & seperlunya dia seakan kata yang ia keluarkan terlalu mahal baginya. Ketiga, ia akan diam. Dia tidak mau menambah masalah kepada orang disekitarnya, tetapi sikap inilah yang paling banyak membuat disekitarnya merasa cemas dan khawatir.

Ditambah lagi dengan wanita yang merasa perlu untuk mengingat kejadian penting yang membuat ia gembira dan bersedih hati. Ketika orang lain lupa akan masa itu.

Awalnya, dengan pikiran realistisku, itu suatu hal yang kekanak-kanakan.

“Masa’ yang gini aja dipikirin?“

“Baru gitu aja nangis“
“Dasar lemah, harus kuat dong“

Begitu mengalaminya…….., dahsyat hati ini bergejolak. Ingin kutumpahkan semuanya kepada orang yang aku percayai. Akan tetapi, aku takut mereka menjadi bingung dan gelisah juga. Maka aku memilih untuk diam, sebelum kabar sedihnya diriku ada di telinga orang lain, aku harus memastikan dulu, bahwa aku bisa menanganinya sendirian. Walaupun, menyesakkan dada pada akhir keputusannya.

Setiap masalah selalu ada solusi dalam hal tersebut. Solusinya, wanita hanya perlu sabar dalam menghadapi segala macam rintangan yang akan dihadapannya. Walaupun begitu sulit, terutama untuk bisa menerima kenyataan yang dialami. Bersabarlah….. Allah selalu bersama orang yang sabar.

Wahai berlian yang mudah rapuh.

Pertemuan Singkat yang Indah

Sebelumnya tak pernah merasakan hal seperti ini

Jum’at, 24 Maret 2017

Pada suatu masa, aku duduk di salah satu masjid di kota Bandung. Hari itu, aku sedang menuggu sesuatu di sana, sampai pada akhirnya ada orang yang terlihat seperti kebingungan mencari tempat duduk dan akhirnya duduk disebelahku.

Ia sudah berancang-ancang ingin menyalamiku. Lalu kusambar saja tangan dia seraya berkata “Assalamu’alaikum….”

Selanjutnya kami pun berbincang-bincang,

*perbincangan ini samar-samar aku mengingatnya dan aku lupa siapa yang memulai duluan*


H : “Teteh namanya siapa?”

X: “Dini (seingat aku tapi kayaknya bukan ini namanya), Kalo nama teteh siapa?”

H: “Aku Hana ”

X : “Teteh kelas berapa?” (waktu itu kebetulan aku sedang memakai seragam)

H : “Kelas 12. Teteh kelas berapa?”

X : “Aku kelas 10”

H : “Oooh, kelas 10? Libur ya? SMA berapa?”

X : “SMA 4, Teteh SMA mana?”

H : “Aku SMA 2”

X : “Wah SMA 2…. pengen kesana iiih, pengen minjem buku yang di perpus masjid. Keren bisa beli sebanyak buku itu”

H : “Ayo main aja ke 2”

X : “Gak ah teh. Takut hehe”

H : “Gapapa ihh mumpung kelas 10”

Dan percakapan terus berjalan sampai membahas bazar di SMA yang ‘memilukan’, lalu menceritakan dirinya yang enggan pergi kerja kelompok dan memilih untuk pergi ke masjid, dan lain-lain.

Sebagai seorang introvert, menurutku ini adalah momen yang sangat menakjubkan karena bisa berbicara banyak dengan orang yang baru saja dikenal. Bahkan temanku yang satu kelas denganku selama 3 tahun, tidak pernah membuatku merasa nyaman didekatnya. Namun, kali ini aku sangat takjub dengan perkenalan singkat ini. Bisa bertukar informasi tanpa ada batasan dan tiba-tiba sudah merasa seperti saudara kandung.

Akhir-akhir ini juga aku ingin sekali bersilaturahim dengan orang banyak berbincang-bincang, tidak asyik dengan duniaku sendiri saja.

Ini waktu spesial dan waktu sangat berharga.karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Tidak halal bagi seseorang apabila ia memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu namun saling mengacuhkan satu sama lain dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai menegur dengan mengucapkan Salam.” (Hadits Riwayat AI Bukhari, no. 5727 dan Muslim, no. 2560)


Ya, memang apa yang mendasari orang merasakan seperti saudara adalah agamanya, karena setiap muslim itu bersaudara :)

Terharu dan senang bisa merasakan ini…..

Untukmu, semoga dirimu dilindungi oleh Allah ya dimana pun dirimu berada. Ingin rasanya bertemu kembali denganmu. Semangat mencari ilmu di usia yang masih baru remaja, bersenang-senanglah hidup di lingkup SMA, perbanyaklah relasi dengan orang lain. Semoga apa yang dirimu pajatkan dalam do’a dikabulkan oleh Allah.

Aamiin allaahumma aamiin….

Menghargai Waktu

Bandung, 20-21 Februari 2016


Dalam keadaan sadar pada saat menuju pergantian hari

“Ini mang angkot kenapa sih harus lewat jalan ini, bukan jalan pintas aja. Udah tau ada anak sekolahan, gak kasian apa kalo telat”


“Aduuuh pake berhenti segala, mati aku kalo sampe gak ikut ngaji”


“Kenapa sih mang angkot pake ngetem segala, gak pernah apa mikirin waktu orang, dasar gak ngehargain waktu orang”


Ya, itu semua adalah penuntutan aku di dalam hati kepada supir angkot yang selalu ngetem, yang kadang selalu tidak sesuai harapan.

Terutama dalam masalah menghargai waktu. Dalam benakku, aku selalu ingin supir angkot menghargai waktu penumpangnya. Padahal siapa yang tahu? Tiap orang punya masalahnya masing-masing. Punya sebuah alasan kenapa seseorang mendapatkan masalahnya. Kadang aku suka gak toleransi hal itu. Bisa jadi aku egois.

Jika boleh jujur….. aku iri dengan orang-orang selalu membawa kendaraan ini, kendaraan itu ataupun diantar. Rasanya kalau bawa kendaraan sendiri lebih efisien. Itu pandanganku terhadap orang yang membawa kendaraan pribadi.

Tapi kadang juga ada perasaan untuk hemat energi ala-ala dengan menggunakan transportasi umum dan untuk menghindari macet. Meskipun memang pada akhirnya selalu menemukan kemacetan dimana-mana. Ditambah dengan kebersihan isi angkot yang berbeda-beda membuat mati kutu gak mau pindah kemana-mana jadinya.

Salah satu yang menjadikan aku selalu “menuntut” kepada supir angkot ialah karena sering telatnya aku datang ke sekolah. Aku selalu berpikiran kalau aku bawa kendaraan pasti cepat sampai. Aku gak harus jalan dari Jalan Bapa Husen -yang nanjak- terlebih dahulu. Ya intinya, aku sangat kesal dengan supir angkot.

Serta didukung juga dengan salah satu guruku selalu beri hukuman tidak ikut mengaji pada saat jam mengaji di pagi hari dan menyuruhku untuk menunggu di luar.Memang sanksi sosial dampaknya sangat memalukan bagiku.

Namun, semakin lama, aku baru sadar jika ‘menuntut’ hal itu tidak merubah apapun. Aku baru sadar jika aku juga yang selalu meminta untuk dihargai waktunya termasuk orang yang tidak menghargai waktu. Yaitu,aku tidak menghargai waktuku kepada Allah.. semua karena… sering telat sholat shubuh….. :( ( Readers, tolong bantu do’a biar aku gak gini terus ya :( )

Ya Allah aku baru sadar jika ternyata apa yang selama ini aku bicarakan tentang pentingnya menghargai waktu orang lain tidak aku terapkan terhadap diri sendiri. Terutama menghargai waktu kepada Allah, pagi aja telat bangun gimana ga berkah pagi hari, gimana ga telat setiap hari.

Yang Menulis,

Hana

Choco Lava

Jum’at, 30 September 2016

Ada faktor-faktor yang membuatku menulis pada hari ini.
Bete ngerjain UDJ (Ujian Dalam Jaringan) karena sistem proxy atauwebsite linknya sedang error. -Mungkin admin lelah :(-
Post sebelumnya discreenshots, dikirimin ke multichat oleh salah satu follower -hehe- dan sangat malu :”)
Ngeliat tumblr daldh**en**.tumblr.com yang aku ga sangka isinya benar-benar melakonis. *poke Dinda* “Hey akhirnya Din, aku tau tumblr kamu!!! <:D Ternyata kamu salah satu stalker sejati ya :3

Then, hari ini aku bukan ingin menulis tentang resep choco lava, atau food review tentang choco lava, tapi keunikan dari choco lava.

Kau tau?

Choco lava adalah makanan sejenis kue coklat yang jika dipotong kuenya akan ada suprise didalamnya yaitu berupa saus coklat yang sangaaat lezat. Seperti temanku yang dari secara fisik biasa-biasa saja sama seperti manusia lainnya, tidak terlihat ada yang menonjol. Lalu kemarin, 29 September 2016, ia memberi sebuah suprise untuk kelas kami.

M. Alif Fauzan Aolindar

Suka dipanggil Ao oleh teman-temannya. Pada waktu pelajaran Agama ia disuruh oleh guru Agama untuk menjelaskan tentang Hari Akhir.
Apa yang menakjubkannya?

Ia menjelaskan tentang kejadian pada hari akhir dari awal sampai akhir! Menurutnya, sebenarnya penjelasan itu akan dibagi menjadi 3 part untuk program mentoring yaitu program ekskul rohis di sekolah kami yang seharusnya per bagiannya dijadwalkan memakan waktu 2 jam. Lalu, ia menjelaskannya di kelas dalam waktu kurang lebih 135 menit!

tidak hanya itu, ia menjelaskan sangat panjang dan membuat orang selalu penasaran dengan rangkaian ceritanya.

“Ao, kalo……….. gimana?”

“Terus habis itu gimana?”

“Sut ih! sok lanjutin Lif”


Aku sama sekali tidak menyangka 20 sekian orang mampu memberi perhatian, mendengarkan, menyimak apa yang dibicarakan olehnya.

Hingga pada saat ¾ cerita sudah dijelaskan olehnya. Guru Agama memotong penjelasannya.

Kurang lebih seperti ini,
“Maaf, Bapak ada keperluan lain, jadi Bapak pamit duluan. Kalo mau dilanjutin, mangga, tapi Bapak keluar duluan, ya? Assalamu’alaikum”

Apa yang terjadi?

Setelah bapak keluar dari kelas, Alif bertanya pada teman-temannya,

“Mau dilanjutin ga ceritanya?”

Jawaban mereka,

“Sok lanjutin Lif”

Aku cuma bisa tercengang. Semenarik itukah?

Akhirnya ia menjelaskan sampai akhir.

Sampai keluar kelas ia berkata,

A: “Han, itu teh 3 part buat mentoring dirapel jadi satu hari”

H: “Oh, iya? tapi bisaan ya Lif bikin 20 sekian orang merhatiin kamu”

A: “Eta teh dakwah, nyak?”

H: “Iya”


Bagiku, Allah memberikan ujian kekurangan kepada hambanya agar ia mau belajar, menjadikannya sebagai orang yang kuat, dan selalu mensyukuri apa yang ia dapat.

Bagiku, Allah memberikan ujian kelebihan agar ia bisa memanfaatkannya dengan baik, menahan untuk tidak ujub, tidak sombong, dan tidak melupakan-Nya dengan cara selalu bersyukur.

Point penting lainnya yaitu, bahwa ikhitiar atau usaha tidak akan mengkhianati hasil. 

Kenapa jadi membahas kelebihan dan kekurangan?

Pelajaran yang saya dapatkan saat itu,

Apa yang ia baca dahulu tidak sia-sia karena hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Tapi, juga bermanfaat juga bagi orang lain.

Ikhtiar dia untuk mencari rahasia tentang hari akhir, membawa ia membaca buku tentang hari akhir di perpustakaan masjid. Lalu setelah ilmunya terserap, ilmunya membawa ia untuk disebarkan kepada orang lain. Dia itu nadanya bicaranya annoying banget sampai bikin teman-temannya kesal. Tapi, dia bisa nunjukin kalo dia sama sekali tidak mempermasalahkan judgement itu.

Ia pun mau untuk belajar dari kesalahan pada pertma ia menjadi pementor.

Seperti choco lava, kekurangan bisa membungkus kelebihan ataupun sebaliknya kelebihan membungkus kekurangan. Tiap manusia punya kejutannya masing-masing :)

Oh Flashdisk-ku Malang, Oh Flashdisk-ku Hilang


Rabu, 3 Februari 2016

Disini, aku bukan mau menulis tentang kronologis hilangnya flashdisk aku yang berwarna hitam dengan sesuatu berwarna merah entah apa namanya beserta gantungannya berwarna abu-abu bertuliskan “lock&lock”, serta body masih mulus(?). Tapi, disini aku mau menceritakan tentang hikmah dari hilangnya flashdisk di kelas. Walaupun, sebenarnya tidak rela dan tidak ingin merasakan kehilangan flashdisk untuk kedua kalinya :’(. Itu beli pakai uang orang tua. Jadi, aku takut bilangnya kalau hilang :(

Bermula dari flashdisk yang tak kunjung ketemu yang sudah hilang selama satu bulan, akupun mulai ada niatan untuk mencari di setiap sudut kelasnya. Mulai mencurigai kalau flashdisk itu hilang di kolong-kolong meja. Satu-satu cari tiap kolong pakai sapu karena kolong-kolong meja di sekolah numpuk sama sampah. Apalagi sama sampah brosur dari bimbel.

Dua kolong meja bisa menghasilkan puluhan sampah. Hingga akhirnya, saat 2 kolong meja dari seluruh meja di kelas sudah bersih. Belum ketemu juga flashdisk ini. Hingga akhirnya ada temanku yang mulai melihat gerak-gerikku.

Dia nanya, “ lagi bersih-bersih?”

“engga, nyari flashdisk”, kata aku

Tapi, entah kenapa ia mulai bantu-bantu bersihin kolong meja. Entah untuk bantu aku cari flashdisk, entah niatnya pingin bersih-bersih, entah niatnya untuk bersih-bersih sambil nyari flashdisk. 9-10 kolong meja sudah bersih tapi kalau lihat kebawah, lantai penuh sama sampah.

Akhirnya, saat ada teman yang sedang asyik ngobrol, mungkin mereka mulai sadar dan peduli untuk membersihkan kelas dan ‘watireun’ melihat aku nyapu sendirian (padahal niatnya cuma mau nyari flashdisk). Satu persatu mereka bantu mengeluarkan sampah dari dalam kelas. Senang bukan main :)).

“Hana, aku bantuin ya!”

Hingga hampir semua orang di kelas pada bantu-bantu. Meskipun ada 1-2 orang yang tidak bergerak 1 meter pun dari tempat duduknya. Jadi semuanya pada piket kelas! dan ada suatu insiden kecil disitu. Yaitu, bau yang tidak sedap sampai teman-teman pada keluar kelas. Disebabkan makanan yang sudah busuk. Aku sibuk nyapu terus dan gak merasakan bau apapun karena aku pakai masker hehe.

Dari situ, aku belajar. Hidup orang tuh pasti ingin bersih. Tapi, tidak sedikit yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar atau karena merasa jijik melihat keadaan yang sudah kotor. Untuk itu, butuh satu orang jadi volunteer untuk peduli terhadap lingkungan masing-masing (tetep aja niatan aku nyari flashdisk :|, jadi bersih-bersih kalo ada sesuatu aja ). Semoga kita semakin sadar akan kebersihan lingkungan sekitar.

Sudah takdir yang diberikan Allah flashdisk-ku hilang, dan sudah takdir yang diberikan Allah pula yang membuatku mencari flashdisk itu dan berbelok arah menjadi kegiatan bersih-bersih kelas karena Allah telah menggerakan hati kami disini untuk membersihkan kelas. Aku sangat bersyukur untuk itu. Dan juga, mungkin sudah takdir untukku karena flashdisk-ku hilang dan ternyata sampai sekarang belum juga ketemu.

Salah satu do’aku untuk mereka ialah
“Ya Allah, muliakanlah mereka yang telah membantu, dan mudahkanlah jalan mereka di dunia dan di akhirat”.
Aamiin……

Sekian cerita hari ini dan satu hal yang penting adalah PERTOLONGAN ALLAH ITU DEKAT.

…….Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya, Allah amat berat siksa-Nya.“ – (QS.5:2)

Minggu, 18 November 2018

Catatan Pada Suatu Hari : Setelah Lama Tidak Menulis

Bandung, 18 November 2018



Sore hari ini, saya menyempatkan kembali menghabiskan waktuku untuk menulis di blog. Apa yang saya tulis? Sepertinya sangat random.

Dari sekian banyaknya kejadian yang dilalui, perlahan-lahan dengan sangat lambat saya baru menemukan diriku seperti apa. Maksudnya? Maksudnya adalah saya mulai bisa kritis terhadap apapun. Dulu, saya adalah termasuk orang yang mengiyakan apapun kata orang hingga akhirnya saya tidak punya pendirian sendiri. Saya sangat tertutup terhadap siapapun. Saya tenggelamkan diri saya dengan traffic pemikiran yang ada di dalam otakku. 

Mungkin orang yang dekat sama saya, paham sekali bahwa sebenarnya saya adalah orang yang kritis, tapi ternyata kritis yang aku punya adalah atas dasar pemikiran sendiri tanpa ada diskusi dengan orang lain. Saya hanya berpikir tentang diri saya, semuanya harus sesuai dengan keinginan saya. Jika tidak tercapai, saya marah. Saya menyalahkan diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain. 

Dia berprestasi, saya pun harus begitu.
Dia punya ini, saya pun harus punya itu.

Banyak sekali ambisi-ambisi, yang saya ingin capai. Namun, saya tak pernah berpikir tentang sebuah tujuan yang jelas. Apa sebenarnya yang ingin diraih pada ambisi-ambisi itu? Pengakuan dari orang tua? Pengakuan dari teman? Pengakuan dari orang lain? Hanya sebatas pengakuan kah?

Pada akhirnya, 
Allah pun menegurku.


Yah, apa artinya ambisi tanpa ada tujuan yang jelas. Ambisi hanya untuk diri sendiri, bukan kebermanfaatan untuk orang lain apalagi peradaban zaman.

Hingga akhirnya, kuberanikan diri untuk mencari apa tujuan dari pilihan-pilihanku....
Saya beranikan diri untuk membuang negative thinking pada orang lain, mencoba untuk terbuka dengan orang lain yang akhirnya bisa tercipta sebuah diskusi yang menarik dan peluang-peluang baru. 

Seperti minggu kemarin, ketika saya menghadiri acara tahunan ekskul di SMP. Ada satu adik kelasku yang berbeda 5 tahun denganku, namanya Aria. Tanpa disengaja, kami ternyata sama-sama membawa kamera. Saya memang suka iseng foto-foto, ga pernah serius, dan dia membawa kamera karena memang tugasnya untuk mendokumentasikan acara. Sampai akhirnya, dia melihat saya foto-foto dan menghampiri saya. Dia berkata, "Teh, lihat" *menunjukkan hasil foto di kameranya*. Fotonya sangat bagus menurutku, setelah berbicara mengenai fotografi, ternyata dia memang sedang mengikuti komunitas fotografi. Saya sampai sempat ditawari oleh dia untuk mengikuti komunitas itu. 

Kalau saya pikir-pikir, apa yang menjadi faktor pendukung dari semua penyadaran ini? Ternyata adalah rasa menerima dan berterima kasih atau biasanya orang bilang adalah bersyukur (Walaupun ini maknanya masih sangaaaaat luas). Menerima merupakan bentuk dari mengalahnya kita bahwa kita hadir bukan untuk memuaskan diri sendiri dan berterima kasih adalah bentuk dari penyadaran bahwa kita hidup pun membutuhkan orang lain.

Faktor pendukung lainnya yaitu cerita dari temanku sendiri, Saska Shafira. Dalam kesibukan dia sebagai mahasiswa dan pengurus himpunan, dia masih menyempatkan untuk mengajari teman-temannya untuk membuat tugas, ada orang yang responnya sangat lambat dan baru mengerti setelah sekian lama dijelaskan, tapi dia tetap sabar. Hal ini menyadarkan saya, bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis. Tidak bisa disamaratakan. Apa jadinya jika saya yang mengajar? Mungkin saya tinggalkan orang itu jika sulit mengerti dan mengajari orang yang mengerti lebih cepat. Kunci yang bisa saya ambil adalah kesabaran.

Saya akhirnya sadar,
Merasa tak berdaya itu wajar, tapi jangan jadikan perasaan itu sebagai penghalang untuk maju. Jangan pula untuk terlalu sering lihat kiri kanan, karena bisa mematikan pendirian.