Minggu, 18 November 2018

Catatan Pada Suatu Hari : Setelah Lama Tidak Menulis

Bandung, 18 November 2018



Sore hari ini, saya menyempatkan kembali menghabiskan waktuku untuk menulis di blog. Apa yang saya tulis? Sepertinya sangat random.

Dari sekian banyaknya kejadian yang dilalui, perlahan-lahan dengan sangat lambat saya baru menemukan diriku seperti apa. Maksudnya? Maksudnya adalah saya mulai bisa kritis terhadap apapun. Dulu, saya adalah termasuk orang yang mengiyakan apapun kata orang hingga akhirnya saya tidak punya pendirian sendiri. Saya sangat tertutup terhadap siapapun. Saya tenggelamkan diri saya dengan traffic pemikiran yang ada di dalam otakku. 

Mungkin orang yang dekat sama saya, paham sekali bahwa sebenarnya saya adalah orang yang kritis, tapi ternyata kritis yang aku punya adalah atas dasar pemikiran sendiri tanpa ada diskusi dengan orang lain. Saya hanya berpikir tentang diri saya, semuanya harus sesuai dengan keinginan saya. Jika tidak tercapai, saya marah. Saya menyalahkan diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain. 

Dia berprestasi, saya pun harus begitu.
Dia punya ini, saya pun harus punya itu.

Banyak sekali ambisi-ambisi, yang saya ingin capai. Namun, saya tak pernah berpikir tentang sebuah tujuan yang jelas. Apa sebenarnya yang ingin diraih pada ambisi-ambisi itu? Pengakuan dari orang tua? Pengakuan dari teman? Pengakuan dari orang lain? Hanya sebatas pengakuan kah?

Pada akhirnya, 
Allah pun menegurku.


Yah, apa artinya ambisi tanpa ada tujuan yang jelas. Ambisi hanya untuk diri sendiri, bukan kebermanfaatan untuk orang lain apalagi peradaban zaman.

Hingga akhirnya, kuberanikan diri untuk mencari apa tujuan dari pilihan-pilihanku....
Saya beranikan diri untuk membuang negative thinking pada orang lain, mencoba untuk terbuka dengan orang lain yang akhirnya bisa tercipta sebuah diskusi yang menarik dan peluang-peluang baru. 

Seperti minggu kemarin, ketika saya menghadiri acara tahunan ekskul di SMP. Ada satu adik kelasku yang berbeda 5 tahun denganku, namanya Aria. Tanpa disengaja, kami ternyata sama-sama membawa kamera. Saya memang suka iseng foto-foto, ga pernah serius, dan dia membawa kamera karena memang tugasnya untuk mendokumentasikan acara. Sampai akhirnya, dia melihat saya foto-foto dan menghampiri saya. Dia berkata, "Teh, lihat" *menunjukkan hasil foto di kameranya*. Fotonya sangat bagus menurutku, setelah berbicara mengenai fotografi, ternyata dia memang sedang mengikuti komunitas fotografi. Saya sampai sempat ditawari oleh dia untuk mengikuti komunitas itu. 

Kalau saya pikir-pikir, apa yang menjadi faktor pendukung dari semua penyadaran ini? Ternyata adalah rasa menerima dan berterima kasih atau biasanya orang bilang adalah bersyukur (Walaupun ini maknanya masih sangaaaaat luas). Menerima merupakan bentuk dari mengalahnya kita bahwa kita hadir bukan untuk memuaskan diri sendiri dan berterima kasih adalah bentuk dari penyadaran bahwa kita hidup pun membutuhkan orang lain.

Faktor pendukung lainnya yaitu cerita dari temanku sendiri, Saska Shafira. Dalam kesibukan dia sebagai mahasiswa dan pengurus himpunan, dia masih menyempatkan untuk mengajari teman-temannya untuk membuat tugas, ada orang yang responnya sangat lambat dan baru mengerti setelah sekian lama dijelaskan, tapi dia tetap sabar. Hal ini menyadarkan saya, bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis. Tidak bisa disamaratakan. Apa jadinya jika saya yang mengajar? Mungkin saya tinggalkan orang itu jika sulit mengerti dan mengajari orang yang mengerti lebih cepat. Kunci yang bisa saya ambil adalah kesabaran.

Saya akhirnya sadar,
Merasa tak berdaya itu wajar, tapi jangan jadikan perasaan itu sebagai penghalang untuk maju. Jangan pula untuk terlalu sering lihat kiri kanan, karena bisa mematikan pendirian.

Senin, 27 Agustus 2018

100 instructions by Allah in the Quran for mankind

100 instructions by Allah in the Quran for mankind 

Allah SWT has directly given us 100 instructions
through Al Quran :
1. Do not be rude in speech (3:159)
2. Restrain Anger (3:134)
3. Be good to others (4:36)
4. Do not be arrogant (7:13)
5. Forgive others for their mistakes (7:199)
6. Speak to people mildly (20:44)
7. Lower your voice (31:19)
8. Do not ridicule others (49:11)
9. Be dutiful to parents(17:23)
10. Do not say a word of disrespect to parents (17:23)
11. Do not enter parents’ private room without asking
permission (24:58)
12. Write down the debt (2:282)
13. Do not follow anyone blindly (2:170)
14. Grant more time to repay if the debtor is in hard
time (2:280)
15. Don’t consume interest (2:275)
16. Do not engage in bribery (2:188)
17. Do not break the promise (2:177)
18. Keep the trust (2:283)
19. Do not mix the truth with falsehood (2:42)
20. Judge with justice between people (4:58)
21. Stand out firmly for justice (4:135)
22. Wealth of the dead should be distributed among his
family members (4:7)
23. Women also have the right for inheritance (4:7)
24. Do not devour the property of orphans (4:10)
25. Protect orphans (2:220)
26. Do not consume one another’s wealth unjustly
(4:29)
27. Try for settlement between people (49:9)
28. Avoid suspicion (49:12)
29. Do not spy and backbite (2:283)
30. Do not spy or backbite (49:12)
31. Spend wealth in charity (57:7)
32. Encourage feeding poor (107:3)
33. Help those in need
by finding them (2:273)
34. Do not spend money extravagantly (17:29)
35. Do not invalidate charity with reminders (2:264)
36. Honor guests (51:26)
37. Order righteousness to people only after practicing it
yourself(2:44)
38. Do not commit abuse on the earth (2:60)
39. Do not prevent people from mosques (2:114)
40. Fight only with those who fight you (2:190)
41. Keep the etiquettes of war (2:191)
42. Do not turn back in battle (8:15)
43. No compulsion in religion (2:256)
44. Believe in all prophets (2:285)
45. Do not have sexual intercourse during menstrual
period (2:222)
46. Breast feed your children for two complete years
(2:233)
47. Do not even approach unlawful sexual intercourse
(17:32)
48. Choose rulers by their merit (2:247)
49. Do not burden a person beyond his scope (2:286)
50. Do not become divided (3:103)
51. Think deeply about the wonders and creation of this
universe (3:191)
52. Men and Women have equal rewards for their deeds
(3:195)
53. Do not marry those in your blood relation (4:23)
54. Family should be led by men (4:34)
55. Do not be miserly (4:37)
56. Do not keep envy (4:54)
57. Do not kill each other (4:92)
58. Do not be an advocate for deceit (4:105)
59. Do not cooperate in sin and aggression (5:2)
60. Cooperate in righteousness (5:2)
61. ’Having majority’ is not a criterion of truth (6:116)
62. Be just (5:8)
63. Punish for crimes in an exemplary way (5:38)
64. Strive against sinful and unlawful acts (5:63)
65. Dead animals, blood, the flesh of swine are
prohibited (5:3)
66. Avoid intoxicants and alcohol (5:90)
67. Do not gamble (5:90)
68. Do not insult others’ deities (6:108)
69. Don’t reduce weight or measure to cheat people
(6:152)
70. Eat and Drink, But Be Not Excessive (7:31)
71. Wear good cloths during prayer times (7:31)
72. protect and help those who seek protection (9:6)
73. Keep Purity (9:108)
74. Never give up hope of Allah’s Mercy (12:87)
75. Allah will forgive those who have done wrong out of
ignorance (16:119)
76. Invitation to God should be with wisdom and good
instruction (16:125)
77. No one will bear others’ sins (17:15)
78. Do not kill your children for fear of poverty (17:31)
79. Do not pursue that of which you have no knowledge
(17:36)
80. Keep aloof from what is vain (23:3)
81. Do not enter others’ houses without seeking
permission (24:27)
82. Allah will provide security for those who believe only
in Allah (24:55)
83. Walk on earth in humility (25:63)
84. Do not neglect your portion of this world (28:77)
85. Invoke not any other god along with Allah (28:88)
86. Do not engage in homosexuality (29:29)
87. Enjoin right, forbid wrong (31:17)
88. Do not walk in insolence through the earth (31:18)
89. Women should not display their finery (33:33)
90. Allah forgives all sins (39:53)
91. Do not despair of the mercy of Allah (39:53)
92. Repel evil by good (41:34)
93. Decide on affairs by consultation (42:38)
94. Most noble of you is the most righteous (49:13)
95. No Monasticism in religion (57:27)
96. Those who have knowledge will be given a higher
degree by Allah (58:11)
97. Treat non-Muslims in a kind and fair manner (60:8)
98. Save yourself from covetousness (64:16)
99. Seek forgiveness of Allah. He is Forgiving and
Merciful (73:20)
100. Do not repel one who asks (93:10)
Let’s share with others so we can all benefit from it.
May Allah continue to guide us , Aamin

Minggu, 26 Agustus 2018

Catatan Pada Suatu Hari: Pada 5 Ramadhan 1439 H

21 Mei 2018

Ketika mulai merasakan hidup ini tidak adil dan mulai putus asa, justru saat itu pula sering ditampakkan orang-orang yang kurang beruntung.

Kamu hanya perlu sedikit lagi untuk bersabar dan lebih banyak lagi untuk bersyukur....

Catatan Pada Suatu Hari: What I've Learned

29 April 2018

Beberapa bulan terakhir ini, ada suatu kondisi yang dimana aku harus memperbanyak merenung dan mengingat kembali pada tujuan hidup. Hingga kemudian, aku mencari makna-makna yang tersembunyi dalam suatu kejadian.
1. Everything happens for a reason 
2. ‎Tidak semua yang kita inginkan akan terwujud dan tidak semua yang kita takutkan akan terjadi 
3. Powerful there's so much strength in you and me 
5. ‎“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” - Asy Syuraa: 30 
6. ‎"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu " - Ali-Imran : 200 7. "‎Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu" - Al - Baqarah : 45 
8. ‎"Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku"
Beberapa hari yang lalu, aku baru menjalani pesantren di kampus yang merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa baru. Uniknya pesantren ini bagiku adalah ketika aku tidak bisa mengikuti kegiatan ini bersama teman-teman satu jurusanku karena adanya kendala satu dan lain hal. Sedih? Pasti. Bukan hanya karena kehilangan momen bersama, akan tetapi juga itu tandanya absensi kehadiran mata kuliah lain ada yang ga beres karena acaranya berlangsung selama satu minggu.
Balik lagi ke satu kutipan, 'everything happens for a reason'. Okay, kemudian aku memilih satu-satunya cara agar aku tidak mengulang pesantren bersama adik tingkat adalah aku harus pindah gelombang dan mengikuti pesantren bersama dengan mahasiswa dari jurusan yang berbeda.
Sendiri.
Sebagai manusia yang introvert dan independen woman, hal ini merupakan suatu tantangan yang agak besar karena harus menjalin hubungan dengan orang-orang baru dan selama 5 malam harus satu kamar dengan orang yang tidak pernah kukenal sebelumnya.
Seiring berjalannya waktu, pesantren itupun tiba. Aku mengalami banyak kejadian-kejadian yang tidak pernah diduga sebelumnya.
1. Mulai dari perkenalan dengan orang-orang baru dan ternyata mereka sangat welcome terhadap orang asing seperti aku. 
2. ‎Aku belajar kembali ilmu-ilmu ukhrowi lebih mendalam dengan dosen-dosen yang sangat aku kagumi dalam pembawaannya dan aku sangat sangat bersyukur mendapatkan dosen yang sangat menggugah jiwa.
 3. ‎Kejadian yang sangat tidak terduga adalah ketika aku tumbang dan pada akhirnya memilih untuk 'melarikan diri' dari ruang kelas ke ruang kesehatan. 
4. ‎Ternyata di ruang kesehatan aku tidak sendiri karena ada orang yang mengalami kecelakaan kecil karena kebodohannya sendiri kemudian pada akhirnya aku bisa berteman dengannya dengan cara membuat obrolan ringan sembari menunggu dokter klinik datang sekaligus menghilangkan rasa anxiety yang saat itu kambuh lagi. —See? Ternyata berteman itu bisa terwujud dalam 1 hari, introvert. 
5. Berbagi pengalaman bersama dengan orang lain yang ternyata mempunyai masalah yang cukup mendalam hanya saja ia bingung ingin bercerita kepada siapa yang dia percaya. 
6. Puncaknya adalah ketika adanya satu kasus yang sepele tapi pada akhirnya menjadi gaduh dan tidak kondusif karena para santriwati yang tidak bisa menahan rasa emosinya.
"Ternyata yang di tv-tv itu benar adanya.... ._."
Para santriwati tanpa ada rasa malu melakukan 'kekerasan' secara verbal kepada orang yang bersalah dan membuat orang itu menjadi tersudutkan, menjauhinya dengan mencari tempat duduk lain agar tidak satu meja dengannya saat waktu makan tiba, membuat panggilan yang tidak pantas karena dilihat dari fisiknya. Semua kejadian ini benar-benar membuatku kehabisan kata-kata. Sesumbar itu kah orang?
Pada akhirnya semua menjadi 'sementara lupa' tentang segala hal terutama kasus tayang terjadi saat menjelang ujian tulisan dan ujian lisan . Kesan ujian tulisan, yah begitulah keadaannya sama seperti ujian tulisan pada umumnya. Namun, hal yang berbeda adalah ujian lisan. Ujian lisan, dimana orang-orang dari berbagai tingkatan kelancaran membaca Al-Qur'an sibuk membaca kitab nya masing-masing tanpa peduli apakah orang lain merasa terganggu apa tidak. —Seperti yang sering dilihat, mungkin Al-Qur'an dibaca di transportasi umum saja harus memilih untuk merendahkan suara agar tak mengganggu orang lain.— Batinku merasakan seperti suasana saat Bulan Ramadhan. Andai tiap hari kayak gini.
Dari serangkaian kejadian yang tak terduga, ada banyak hal yang aku dapatkan pelajaran diantaranya, mempelajari krakteristik berbagai macam orang dan mengingat kembali pada satu kutipan 'everything happens for a reason'
Apapun kejadian yang datang menghampiri, semuanya dijadikan cermin dalam hidup untuk terus bergerak memperbaiki kesalahan dan selalu berusaha menjadi orang yang bermanfat dan berguna untuk orang lain.

Catatan Pada Suatu Hari : Manusia, Ujian, dan Ambisi

10 Maret 2018

Satu hari terlintas saja dibenakku dengan sekelumitnya permasalahan manusia di muka bumi ini.

Ada yang sabar ketika menghadapi permasalahan akademis, namun tidak bisa menahan sabarnya ketika diberi ujian melalui penyakit yang dideritanya.

Ada yang sabar ketika menghadapi permasalahan keuangan, namun tidak bisa menahan sabarnya ketika diberi ujian melalui keluarga yang tidak harmonis.

Ada yang sabar ketika menghadapi permasalahan persahabatan, namun tidak bisa menahan sabarnya ketika diberi ujian melalui konflik percintaan dengan pasangannya.

Ada-ada saja.

Sejenak lalu aku mengingat penggalan ayat yang memiliki inti bahwa Allah tidak akan menguji manusia melewati batas kemampuan hamba-Nya dan apa yang menurut pemahaman manusia itu baik belum tentu baik dalam pandangan Allah, bisa jadi apa yang merurut manusia itu buruk belum tentu buruk di mata Allah.

Manusia......

Berbagai macam keinginan yang sangat diharapkan bisa segera terwujud. Padahan kalau saja berdo’a, semua keinginan itu dapat terwujud. Meskipun terkadang, diwujudkan dengan hal yang justru sama sekali tidak diimpikan sebelumnya. Mungkin diberi hal yang membuat hati gembira, mungkin juga diberi dengan sesuatu yang malah membuat kita menggerutu. Bercermin pada diri sendiri bagaimana cara menyikapi pengabulan do’a seperti itu.

Ah, sungguh kali ini aku benar-benar tak mengerti. Bagaimana sabarnya orang yang diuji berbagai macam masalah rumit yang sedang dihadapi itu. Bagaimana caranya mengorbankan ego dirinya, mengorbankan ambisinya dan cita-citanya. Hanya untuk menyelesaikan satu permasalahan yang besar sehingga mengorbankan apa yang diinginkannya.

Aku Mengakui

25 April 2015

Aku mengakui, relasiku banyak. Teman di app LINE-ku kurang lebih ada 300. Teman di facebook kurang lebih ada 700. Belum di kontak HP dan lingkungan sekitarku. Entah di rumah, di sekolah, kadang di tempat les, tempat dulu aku pesantren, dan saudaraku yang tersebar dimana-mana.
Aku mengakui, fotoku dari aku lahir hingga aku berumur 16 tahun sudah sangat banyak. Mungkin, bisa mencapai 1000 foto atau lebih. Foto. Satu momen yang tertangkap dan sangat jorok. Yup, jorok karena orang yang aku tidak kenal sekalipun ada dalam fotoku yang tersimpan dan ada dimana - mana. Apa sih tujuan untuk difoto? Rata-rata akan menjawab untuk mengabadikan momen. Ketika mengabadikan suatu momen di tempat yang luas tetapi hanya ada satu orang disana,mungkin akan nampak sepi. Tetapi, kehadiran orang-orang yang tidak dikenal malah membuat seakan-akan foto itu terlihat ramai dan terasa hidup.

Aku pernah berfoto ria bersama orang-orang yang dulunya aku tak kenal dia itu siapa, dan bagaimana karakter dia. Namun, saat fotonya muncul kita seperti orang yang akrab dan sembari tersenyum bersama. Pengalaman lucu ketika ibuku meminta foto bareng dengan bule padahal artis luar negeripun bukan. Atau orang luar negeri yang mengikuti program pertukaran pelajar ikut foto bersama kami yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Tapi, jika dipikir lagi memangnya siapa dia? Apakah dia masih mengingatku yang pernah berfoto bersamaku?
Mungkin hanya sebagian saja aku buktikan bagaimana bentuk relasiku. Namun, dari sekian banyaknya orang yang aku kenal, yang pernah berbagi waktu bersamaku, yang pernah menjadi teman atau yang sekarang terlupakan. Mengapa sulit bagiku untuk berbagi waktu bersama lagi?
Aku mengakui, aku iri pada orang yang saat diajak kawannya untuk bermain bersama mereka masih menyempatkan waktu mereka untuknya. Atau jika ditolak masih ada kawan untuk diajak. Bisa jadi untuk kebaikan. Bisa jadi malah untuk keburukan.
Aku mengakui, mereka pun punya kesibukan masing-masing sehingga mereka memprioritaskannya. Aku mengerti, mungkin waktunya belum tepat untuk berbagi bersamaku.
Dan aku mengakui, sekarang aku menunggu saat waktu berbagi itu datang :)