Akhir-akhir ini selama pandemi
yang hingga detik ini belum selesai, seringkali bagiku memiliki waktu yang
cukup longgar dibandingkan ketika saat menjalani rutinitas sebelumnya. Lebih
terasa ketika tidak lagi merasakan kehilangan waktu seperti memilih baju yang
baik untuk dipakai di hari itu, waktu persiapan panasin mobil atau motor, waktu
persiapan pergi keluar, waktu mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain, dan
waktu-waktu lainnya yang digunakan tanpa sadar dan bisa tergantikan dengan
rebahan sembari scrolling Instagram dan nonton Netflix atau nonton film ilegal.
Waktu akhirnya jadi semakin terasa lebih penuh dimiliki sampai bingung mau ngerjain apalagi. Di satu sisi karena waktu me-time jadi lebih banyak, bagiku ini jadi ajang aku melakukan banyak hal karena akhirnya bisa menyendiri setelah lama sekali hidup diantara hingar bingar dunia luar dan hiruk pikuk perkuliahan yang tiada berhentinya.
But it’s a trap!
Aku ingat betul masa karantina
dimulai pada hari Senin tanggal 16 Maret 2020 dan tempat terakhir yang aku singgahi sebelum karantina adalah Upnormal Dipatiukur buat belajar materi kuliah Studio 4 yang materinya lebih
kearah ilmu dunia komputer daripada planologi, dan itu sangat membuatku dan temanku Mona pusing haha, but it’s okay! *eh kok jadi kesana?* Baik lanjut setelah itu,
selama akhir Maret hingga Juni kemarin aku menyelesaikan perkuliahanku di
Semester 6 secara online.
Disinilah perang batinku dimulai.
Selama satu bulan pertama aku
jalani hari-hariku dengan sangat stabil. Aku tidak bisa denial jika aku merasa cukup senang, tanpa beban, dan tidak tertekan
saat itu karena hutangku untuk menulis artikel di organisasi bisa aku lakukan,
hutangku terhadap diriku sendiri untuk menulis travel blog bisa aku lakukan, saat masa UTS bisa lebih longgar
karena bisa explore sepuasnya untuk menjawab (dengan catatan tidak bertanya
dengan teman).
Namun, perasaan ini tidak berlangsung lama.
Sekitar minggu kedua bulan Mei, akhirnya batinku mulai terganggu. Aku mengalami kegagalan kesekian kalinya
dalam suatu perlombaan. Pupus harapanku lagi untuk mendapatkan hasil yang
terbaik menurutku. Aku akhirnya mulai membanding-bandingkan hidupku dengan yang
lainnya yang lebih sukses, lebih ceria, lebih berprestasi. Sejak saat itu, aku
mulai menarik diri dari orang-orang bahkan temanku sendiri. Diharapkan, dengan
menarik diri dari teman-temanku terutama selama Bulan Ramadhan aku bisa lebih mindfulness.
Aku pun jadi lebih berpikir
banyak “mengapa tidak begini, mengapa tidak begitu, kenapa harus begini, kenapa
harus begitu”. Ternyata bertanya selama itu pun tidak menghasilkan apa-apa.
Belajar pasca UTS pun bisa dibilang semakin kacau. Aku mulai mengembalikan
aktivitasku untuk menulis menuangkan rasa dan pikiran, tapi.... rasanya
aku tidak menemukan rasa antusias yang sama ketika aku menulis saat aku masih
di bangku SMA.
Masuk bulan Juni, sudah mulai
masuk waktu untuk UAS. Jadwal UAS di-plot dalam
minggu kesatu dan kedua. Setelah UAS, mulai mencari tempat kerja praktek
yang aku minat untuk ditempati. Sayang seribu sayang, tempat aku
melamar pekerjaan tidak memberikan respon. Akhirnya aku kembali mencari tempat
lain dan aku menemukan tempat kerja praktek meskipun tempatnya diluar dari
dugaan dan harapanku. Lagi-lagi merasa bersaing dengan yang lain dalam
masalah kerja praktek. Ada orang yang lebih baik menurutku, ada yang
punya kesempatan untuk develop lebih
baik yang aku pikir kalau aku bisa ada disana rasanya aku lebih antusias untuk mengerjakannya. Ya,
mirip film Hunger Games lah. Berlomba-lomba untuk memiliki sesuatu yang memberi
advantages untuk dirinya.
Tiba-tiba tak terasa sudah masuk Bulan Juli. Awal bulan Juli masuk kedalam jadwal paling hectic selama pandemi. Mulai dari pekerjaan, organisasi, dan course online. Belum lagi mempertahankan habit untuk improvement diri. Di sisi lain, orang-orang sudah mandiri untuk menambah penghasilan dari hasil penjualannya. Ya, beberapa akhir ini sudah banyak sekali orang menjadi mendadak wirausahawan menjual ini itu yang which is good untuk dikembangkan.
Sampai akhirnya,
Beberapa hari terakhir, ada
banyak sekali yang mempertanyakan.
“Memang kenapa dengan hidup seperti biasa saja?”
Kemudian aku tersadar.
Poin aku disini bukan maksudnya
untuk menyadarkan diri melakukan sesuatu yang biasa saja lalu jadi tidak mau
berusaha optimal, tidak menjalani hidup sebaik mungkin, dan tidak ingin berpenghasilan.
Bukan. Bukan itu.
Aku sudah menyaksikan orang yang
berusaha meskipun tidak terlihat di sosial media. Banyak yang berjuang dan
memilih untuk tidak menyuarakan keresahan hatinya menghadapi sulitnya hidup.
Banyak yang tidak terceritakan di media. Banyak yang sudah berusaha hingga menghadapi kegagalan berkali-kali. Banyak untaian do’a yang terdengar
sayup-sayup berharap masih bisa berusaha dan berjuang esok hari untuk menghadapi
ujian yang dihadapinya.
Semua pada dasarnya berusaha.
Tapi memang setiap orang punya
jalan hidupnya masing-masing.
Ada yang berpenghasilan karena terpaksa memang butuh dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada yang memang belum waktunya berpenghasilan karena mungkin.. suatu saat akan ditempatkan di tempat kerja yang memberi gaji sesuai kebutuhannya selagi saat ini menyibukkan diri dengan berusaha menyelesaikan dasar-dasar untuk mengembangkan skill di tempat ia bekerja nanti.
Berbicara tentang jalan hidup,
Kita bisa saja berambisi
berlomba-lomba dalam mengejar kebaikan, kita bisa saja berambisi menjadi
sebaik-baiknya menjadi manusia yang bermanfaat.
Namun perlu juga untuk mengetahui
kemampuan diri masing-masing seberapa besarnya target untuk mengejar dalam
kebaikan, seberapa besarnya target menjadi manusia yang bermanfaat. Semuanya kembali lagi dinilai dari proses dan cara menghadapi rintangannya. Hanya kita yang tahu kapasitas diri kita sendiri.
Bahkan ketika sekelompok orang
mendapatkan permasalahan yang sama, bukankah cara tiap orang menghadapinya
berbeda?
Bahkan dalam urusan kecepatan, kecepatan
orang untuk mendapatkan dan menyelesaikan sesuatu juga bukan lagi jadi
persoalan yang baik.
Cepat bersinar menjadi bintang,
cepat juga redup cahayanya.
Cepat naik namanya, cepat juga
turun tanpa bekasnya.
Kalo ada petuah yang bilang,
“Lebih cepat, lebih baik”
Lalu bagaimana caranya menghargai
proses?
Apa bisa diganti dengan, “Lebih tepat, lebih baik”...?
2 komentar:
hey chingu 정말 수고했어요!!! ^_^
Sriii 정말 감사!!!! 너도 야~~~
Posting Komentar