Kamis, 29 Oktober 2020

Nonetheless, Covid-19 teach me a lot.

Pada hari Rabu (9/9) pagi itu, aku sedang workout di kamar pribadiku. Selang beberapa lama, aku dipanggil oleh ibuku dari ruang dapur dengan nada yang cukup besar dan seperti ada rasa kepanikan yang tertahankan.

Aku ditanya oleh ibuku,

“Teh, terakhir teteh keluar kemana aja?“

“Teh, teteh ada gejala yang kerasa ga sekarang? “

Dengan polosnya aku menjawab dengan nada biasa seperti tidak tahu apa-apa dan tidak terjadi apa-apa.

“Terakhir ke bank, bayar kuliah“

“Paling sakit kepala sih“

Kemudian dilanjut dengan pernyataan ibuku bahwa hasil swab test sudah keluar dan qadarullah aku dinyatakan positif Covid-19. Anyway, aku mengikuti swab test untuk tracing satu keluarga karena ayahku terlebih dahulu terkonfirmasi positif Covid-19 setelah menjalani swab test dari kantornya.

Reaksinya bagaimana?

Jujur diri sendiri masih bingung sambil mempertanyakan, 

“beneran ini ga salah denger aku?" 

Ga lama setelah itu, langsung aku kabari orang-orang terdekat. Beragam respon datang dari mereka terutama teman-teman yang ikut kaget dan bilang, "HANA?!?! PADAHAL KAMU YANG PALING JARANG KELUAR LOH"

Masih mempertanyakan kemana saja tempat yang aku kunjungi sebulan terakhir, mempertanyakan kenapa bisa kena padahal aku keluar jarang nongkrong, dan keluar hanya berbelanja beberapa kebutuhan. Untuk kerja praktek pun aku pergi ke kantor hanya sekali dan bertemu teman secara dine in hanya dua kali. Masker selalu dipakai — kecuali kalo sedang makan — dan tidak bersentuhan dengan orang sama sekali. 

Bahkan waktu dine in di restoran bareng teman-teman untuk pertama kalinya sejak sekian lama, temanku, Maul mengajak berpelukan terlebih dahulu, tapi aku menolak kemudian kubilang, "maaf ya Ul, peluknya jangan dulu". 

Tidak hanya itu saja, semenjak ada berita Covid-19 itu hadir di Indonesia, aku ga pernah peluk dan cium tangan ayah dan ibu — kecuali saat lebaran Idul Fitri dan Idul Adha — , ga pernah makan bareng dengan ayah dan ibu dalam satu meja karena setiap orang di rumah sama-sama berpotensi apalagi orang tua yang benar-benar tidak bisa WFH karena harus kerja di lapangan memastikan kondisi kebutuhan orang-orang terkendali.

Akhirnya pada hari Kamis (10/9), aku 'diasingkan' di salah satu RS di Kota Bandung dengan status orang tanpa gejala dengan tujuan untuk menghindari kontak dengan keluarga yang tidak terkena Covid-19. Memang statusnya orang tanpa gejala karena rasanya mirip seperti flu biasa, tapi percayalah ini sudah cukup membuat menderita bukan main meskipun kata orang-orang ga 'seseram itu'. Jika bisa memilih, lebih baik tidak pernah tertular seumur hidup daripada harus melewati fase ini.

View dari rooftop rumah sakit saat olahraga

Bosan? Jangan ditanya. Aku pun di dalam kamar sudah banyak menghabiskan waktu dengan menonton film-film di aplikasi Netflix — yang dibelikan sepupuku yang tumben baik mau belikan akun itu karena biasanya pelit, but thank you Kak Angga — dan Viu atau baca buku. Beruntungnya, saat itu aku tidak sendiri, ada roommate yang sangat nyambung untuk membicarakan banyak hal terutama dunia drakor dan seperti merasa punya kakak sendiri karena usiaku lebih muda dari dia dan kebetulan pula dalam silsilah keluarganya, dia termasuk anak bungsu dan posisi di keluargaku pun aku merupakan anak sulung sehingga kami seperti bergantian peran. 

Buku + wedang jahe buatan ibu


Tidak luput juga untuk melakukan
safari call pada orang-orang. Terkadang dengan keluarga ataupun bersama teman-teman melalui telepon atau bila tidak bisa, lewat chatting. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah masih ada teman yang jadi support system dari jauh. Terutama teman-teman SMA yang masih keep in touch lewat video call.

Aku diisolasi selama 11 hari dan kegiatan rutin yang dilakukan dari rumah sakit hanya program olahraga untuk meningkatkan imunitas. Tidak lupa, diberi makan yang variatif dan enak selama tiga kali sehari ditambah pengecekan suhu tubuh, SpO2, tensi darah, dan monitoring gejala. 

Gejalanya selama di rumah sakit aku sering merasa batuk kering, pusing, sakit kepala, dan dada terasa sakit meskipun tidak berat jadi dokter hanya memberi obat untuk mengobati gejala-gejala yang muncul. 

Akan tetapi, ada satu gejala yang tidak biasa. 

Ini terasa ketika aku sedang berbicara dengan roommate-ku saat itu. 

Aku mulai merasa bingung ingin bertindak apa dan merasa kebingungan untuk menceritakan suatu kejadian secara runtut — meskipun memang biasanya begitu tapi pada waktu itu berbeda rasanya — . 

Kejadian lainnya adalah ketika aku lupa nomor telepon ibuku, padahal aku sangat hafal betul nomor hp ibuku dan ayahku, tapi ketika ditanya nomor hp ibuku, pikiranku langsung blank tiba-tiba.

Setelah ditelusuri melalui internet, gejalanya mirip dengan brain fog. Asumsi itu datang setelah melihat ada berita orang yang positif Covid-19 yang mengalami brain fog. Tidak hanya itu, rasa sakit kepala selalu hadir dan terasa sangat tertekan.

View dari dalam kamar saat malam

Hari ke-11 aku sudah bisa pulang dari rumah sakit dengan catatan bahwa aku masih harus isolasi mandiri di rumah sebagai bentuk adaptasi kembali dengan lingkungan rumah selama 2 minggu. Benar saja, saat hari pertama di rumah gejala itupun datang lagi. Entah karena apa. Tapi setelah swab test ulang, alhamdulillah aku dinyatakan negatif dan akhirnya aku hanya diberi obat untuk mengobati gejala saja.

Aku hanya sempat berpikir jika mungkin itu disebabkan dari perasaan yang terlalu sedih. Ya, disisi lain aku merasa sedih setelah isolasi di rumah sakit. Tiba-tiba aku membayangkan tenaga medis yang selalu memakai baju astronotnya setiap hari tanpa tahu sampai kapan seperti terjebak dalam situasi yang berlangsung lama, sedangkan aku? Aku sekarang bisa bebas. Setidaknya bisa melakukan banyak hal di rumah. Aku hanya berharap pandemi ini segera berakhir karena aku sangat tidak tega mengamati tenaga medis yang setiap hari berjuang di medan yang sulit ini dalam waktu yang lama.

Akhir kata, aku berharap hal ini bisa dijadikan pelajaran dalam hidupku untuk bisa memaknai kejadian ini semua. Awalnya banyak sekali pertimbangan untuk share ini ke ranah publik, karena beberapa mungkin ada yang memiliki stigma negatif dari penyakit ini dan menjadi aib menurut orang lain. Tapi setelah aku mendengar berita tentang para penyintas Covid-19, aku tau aku tidak sendirian menghadapi ini dan sebisa mungkin bersama-sama menyuarakan untuk terus melawan virus ini dan melawan pandangan-pandangan negatif kepada para penyintas Covid-19. Bahwa semua orang bisa sangat berpotensi bahkan untuk orang yang memiliki proteksi diri paling canggih sekalipun. Setidaknya, kita perlu mengikhtiarkan diri untuk mencegah daripada tidak sama sekali.

Kemudian menyerahkan segalanya pada Allah, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sabtu, 08 Agustus 2020

Catatan Pada Suatu Hari : Kita Punya Hidup Masing-Masing dan Kita Punya Cara Hidupnya Masing-Masing.

Akhir-akhir ini selama pandemi yang hingga detik ini belum selesai, seringkali bagiku memiliki waktu yang cukup longgar dibandingkan ketika saat menjalani rutinitas sebelumnya. Lebih terasa ketika tidak lagi merasakan kehilangan waktu seperti memilih baju yang baik untuk dipakai di hari itu, waktu persiapan panasin mobil atau motor, waktu persiapan pergi keluar, waktu mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain, dan waktu-waktu lainnya yang digunakan tanpa sadar dan bisa tergantikan dengan rebahan sembari scrolling Instagram dan nonton Netflix atau nonton film ilegal.

Waktu akhirnya jadi semakin terasa lebih penuh dimiliki sampai bingung mau ngerjain apalagi. Di satu sisi karena waktu me-time jadi lebih banyak, bagiku ini jadi ajang aku melakukan banyak hal karena akhirnya bisa menyendiri setelah lama sekali hidup diantara hingar bingar dunia luar dan hiruk pikuk perkuliahan yang tiada berhentinya. 

But it’s a trap!

Aku ingat betul masa karantina dimulai pada hari Senin tanggal 16 Maret 2020 dan tempat terakhir yang aku singgahi sebelum karantina adalah Upnormal Dipatiukur buat belajar materi kuliah Studio 4 yang materinya lebih kearah ilmu dunia komputer daripada planologi, dan itu sangat membuatku dan temanku Mona pusing haha, but it’s okay! *eh kok jadi kesana?* Baik lanjut setelah itu, selama akhir Maret hingga Juni kemarin aku menyelesaikan perkuliahanku di Semester 6 secara online.

Disinilah perang batinku dimulai.

Selama satu bulan pertama aku jalani hari-hariku dengan sangat stabil. Aku tidak bisa denial jika aku merasa cukup senang, tanpa beban, dan tidak tertekan saat itu karena hutangku untuk menulis artikel di organisasi bisa aku lakukan, hutangku terhadap diriku sendiri untuk menulis travel blog bisa aku lakukan, saat masa UTS bisa lebih longgar karena bisa explore sepuasnya untuk menjawab (dengan catatan tidak bertanya dengan teman).

Namun, perasaan ini tidak berlangsung lama.

Sekitar minggu kedua bulan Mei, akhirnya batinku mulai terganggu. Aku mengalami kegagalan kesekian kalinya dalam suatu perlombaan. Pupus harapanku lagi untuk mendapatkan hasil yang terbaik menurutku. Aku akhirnya mulai membanding-bandingkan hidupku dengan yang lainnya yang lebih sukses, lebih ceria, lebih berprestasi. Sejak saat itu, aku mulai menarik diri dari orang-orang bahkan temanku sendiri. Diharapkan, dengan menarik diri dari teman-temanku terutama selama Bulan Ramadhan aku bisa lebih mindfulness.

Aku pun jadi lebih berpikir banyak “mengapa tidak begini, mengapa tidak begitu, kenapa harus begini, kenapa harus begitu”. Ternyata bertanya selama itu pun tidak menghasilkan apa-apa. Belajar pasca UTS pun bisa dibilang semakin kacau. Aku mulai mengembalikan aktivitasku untuk menulis menuangkan rasa dan pikiran, tapi.... rasanya aku tidak menemukan rasa antusias yang sama ketika aku menulis saat aku masih di bangku SMA.

Masuk bulan Juni, sudah mulai masuk waktu untuk UAS. Jadwal UAS di-plot dalam minggu kesatu dan kedua. Setelah UAS, mulai mencari tempat kerja praktek yang aku minat untuk ditempati. Sayang seribu sayang, tempat aku melamar pekerjaan tidak memberikan respon. Akhirnya aku kembali mencari tempat lain dan aku menemukan tempat kerja praktek meskipun tempatnya diluar dari dugaan dan harapanku. Lagi-lagi merasa bersaing dengan yang lain dalam masalah kerja praktek. Ada orang yang lebih baik menurutku, ada yang punya kesempatan untuk develop lebih baik yang aku pikir kalau aku bisa ada disana rasanya aku lebih antusias untuk mengerjakannya. Ya, mirip film Hunger Games lah. Berlomba-lomba untuk memiliki sesuatu yang memberi advantages untuk dirinya.

Tiba-tiba tak terasa sudah masuk Bulan Juli. Awal bulan Juli masuk kedalam jadwal paling hectic selama pandemi. Mulai dari pekerjaan, organisasi, dan course online. Belum lagi mempertahankan habit untuk improvement diri. Di sisi lain, orang-orang sudah mandiri untuk menambah penghasilan dari hasil penjualannya. Ya, beberapa akhir ini sudah banyak sekali orang menjadi mendadak wirausahawan menjual ini itu yang which is good untuk dikembangkan. 

Sampai akhirnya,

Beberapa hari terakhir, ada banyak sekali yang mempertanyakan.

“Memang kenapa dengan hidup seperti biasa saja?”

Kemudian aku tersadar.

Poin aku disini bukan maksudnya untuk menyadarkan diri melakukan sesuatu yang biasa saja lalu jadi tidak mau berusaha optimal, tidak menjalani hidup sebaik mungkin, dan tidak ingin berpenghasilan.

Bukan. Bukan itu.

Aku sudah menyaksikan orang yang berusaha meskipun tidak terlihat di sosial media. Banyak yang berjuang dan memilih untuk tidak menyuarakan keresahan hatinya menghadapi sulitnya hidup. Banyak yang tidak terceritakan di media. Banyak yang sudah berusaha hingga menghadapi kegagalan berkali-kali. Banyak untaian do’a yang terdengar sayup-sayup berharap masih bisa berusaha dan berjuang esok hari untuk menghadapi ujian yang dihadapinya.

Semua pada dasarnya berusaha.

Tapi memang setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing.

Ada yang berpenghasilan karena terpaksa memang butuh dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada yang memang belum waktunya berpenghasilan karena mungkin.. suatu saat akan ditempatkan di tempat kerja yang memberi gaji sesuai kebutuhannya selagi saat ini menyibukkan diri dengan berusaha menyelesaikan dasar-dasar untuk mengembangkan skill di tempat ia bekerja nanti.

Berbicara tentang jalan hidup, 

Kita bisa saja berambisi berlomba-lomba dalam mengejar kebaikan, kita bisa saja berambisi menjadi sebaik-baiknya menjadi manusia yang bermanfaat.

Namun perlu juga untuk mengetahui kemampuan diri masing-masing seberapa besarnya target untuk mengejar dalam kebaikan, seberapa besarnya target menjadi manusia yang bermanfaat. Semuanya kembali lagi dinilai dari proses dan cara menghadapi rintangannya. Hanya kita yang tahu kapasitas diri kita sendiri.

Bahkan ketika sekelompok orang mendapatkan permasalahan yang sama, bukankah cara tiap orang menghadapinya berbeda?

Bahkan dalam urusan kecepatan, kecepatan orang untuk mendapatkan dan menyelesaikan sesuatu juga bukan lagi jadi persoalan yang baik.

Cepat bersinar menjadi bintang, cepat juga redup cahayanya.

Cepat naik namanya, cepat juga turun tanpa bekasnya.

Kalo ada petuah yang bilang,

“Lebih cepat, lebih baik”

Lalu bagaimana caranya menghargai proses?

Apa bisa diganti dengan, “Lebih tepat, lebih baik”...?

 

Rabu, 05 Februari 2020

Studio & Semester 5

Here we go!
Bismillah
Sebenarnya menulis ini adalah keinginanku yang sudah sangat lama dan ya... hanya saja butuh ‘effort’ untuk menulis ini a.k.a muager puool tapi kan ga boleh ya berlama-lama untuk mager karena seorang muslim itu hakikatnya sebagai musafir bergerak terus bergerak. Emang ya nih ada aja yang ngebisikin biar terus hanyut dalam kesia-siaan. Dasar aku. :)

Anyway, aku ingin sekali cerita tentang masa semester 5 ini yang weh ajigileee khaan maen rintangan dan tantangannya. Adaa aja yang bikin kesel, ada aja yang bikin marah, ada aja yang bikin kecewa, ada aja yang bikin sedih, dan ada juga yang bikin tertawa, ada pula yang bikin bahagiaa.

Kalau kilas balik ke semester 5 kemarin, rasanya manis dikenang haram diulang. Terus ya dipikir-pikir kok bisa ya dulu bisa begitu bergejolaknya emosi ini atau kok bisa ya akhirnya menjalani itu semua. Ya semuanya sih balik lagi karena Allah serba bisa apalagi urusan mengurusi hamba-Nya.
Dari awal tuh mungkin udah capek duluan sama namanya urusan ospek. Disaat yang lain masih liburan, panitia ospek yaaa rapat ospek dan hasil yang ga beres-beres waktu itu kerasanya lamaaaa banget. Bahkan rangkaian ini berlangsung selama hampir 4 bulan. Jadi ospeknya ga pas diawal perkuliahan tapi selama kuliah berjalan ospek pun berjalan terus. 

Ditambah lagi, di semester ini memasuki mata kuliah Studio 3 yang didalamnya terdapat pembelajaran tentang analisis dan rencana untuk wilayah di Kabupaten Pangandaran. Rasanya nano-nano karena permasalahannnya bukan hanya pusing banget sama materinya dan revisi all day long yang ga ada habis-habisnya ditambah berbagai permasalahan kelompok. Sebenarnya saat Studio 2 juga ada masalah tersendiri dengan internal kelompok, tapi kalo ini beda cerita dan aku sangat malas untuk mengurusinya. Awal-awal masih bisa aku handle pokoknya aku memaksakan bahwa kita semua tim yang harus terus bergerak, ga boleh ada yang ninggalin. Sampai akhirnya, makin lama semangat orang-orang makin menurun tapi progres hasil terus perbaikan agar meningkat. Aku sendiri sih ya hanya menjalani saja bagian tugasku namun perlu juga untuk memback-up untuk perihal yang kurang bagiannya. Mana selalu saja dibandingkan dengan kelompok lainnya. Kan jadi jiper. :”(( Ditambah keberadaan orang yang tak kunjung datang kabarnya. Dicari hilang, dikejar lari kata Maskun haha. Hal itu cukup menguras banyak emosi aku pada waktu itu.

Twitter mungkin menjadi saksi bagaimana aku sangat-sangat overwhelmed karena mata kuliah satu ini. Dirasa tuntutannya sangat banyak karena sering revisi terus, presentasi terus, pokoknya pernah sampai jadi susah untuk tidur karena malamnya perlu mengerjakan tugas yang satu ini. Bangun tidur, makan, abis sholat rasanya ga karuan karena ngerjain ini terus. Kerja kelompok terus tiap minggu, bahkan mungkin setiap mendekati pemaparan akan ada saat dimana kerja kelompok jadi terjadwalkan setiap hari. Lelah. Sangat lelah. Aku pun menyadari bahwa akhirnya dengan bekegiatan seperti ini membuat metabolisme tubuh aku jadi terganggu. Waktu jam malam malah digunakan untuk mengerjakan tugas, dan paginya mencuri-curi kesempatan untuk tidur. Belum dengan cerita perintilan lainnya.

Namun yang aku insyafi adalah ketika aku melakukan seminar akhir saat aku akhirnya tersadar bahwa Studio ini sebenarnya adalah yang harusnya membuka mata aku dengan lebar. Ada makna tersembunyi dibalik seluruh rangkaian kisah ini. Studio ini memiliki makna yang sangat luas yang mungkin hanya segelintir orang saja yang mendapatkan saripati hikmah dari semuanya. Studio yang selalu ‘dimaki-maki’ karena banyak sekali aturan yang mesti dijalani tanpa disadari bahwa mempunyai dampak yang besar apabila ternyata dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam wilayah yang direncanakan. Pemisalan ini dapat dirasakan ketika kita harus membuat zona disinsentif di suatu wilayah. Waktu itu, di wilayahku sempat membuat zona disinsentif di zona pemukiman tinggi di area rawan bencana alam. Zona ini perlu dipertimbangkan sebagai zona disinsentif karena perlu adanya pembatasan pembanganan area pemukiman lagi di zona tesebut agar masyarakat yang terkena dampak dari bencana alam apabila terjadi bencana alam bisa dicegah dari awal dan dapat diperkirakan tidak menimbulkan korban jiwa yang banyak dan kerugian yang besar.
Inilah yang aku harusnya sadari betul dari awal bahwa semua tidak semata-mata ‘hanya merencanakan’ dan mungkin bila aku sadari dari awal, aku mungkin saja tidak terlalu merasa terbebani dengan mengikuti rangkaian kegiatan perkuliahan ini.

Harapanku kedepannya bisa serius lagi untuk mempelajari berbagai macam materi perkuliahan ini, ada dampak besar dari yang kita lakukan sekarang mungkin 5-10 tahun lagi terjawabkan dan jangan lupa untuk selalu menyisipi makna dan manfaat dari seluruh kejadian yang telah dilalui. Untuk semester 6, be better from before, k?