Bismillah
Sebenarnya menulis ini adalah
keinginanku yang sudah sangat lama dan ya... hanya saja butuh ‘effort’ untuk
menulis ini a.k.a muager puool tapi kan ga boleh ya berlama-lama untuk mager
karena seorang muslim itu hakikatnya sebagai musafir bergerak terus bergerak.
Emang ya nih ada aja yang ngebisikin biar terus hanyut dalam kesia-siaan. Dasar
aku. :)
Anyway, aku ingin sekali cerita
tentang masa semester 5 ini yang weh ajigileee khaan maen rintangan dan
tantangannya. Adaa aja yang bikin kesel, ada aja yang bikin marah, ada aja yang
bikin kecewa, ada aja yang bikin sedih, dan ada juga yang bikin tertawa, ada
pula yang bikin bahagiaa.
Kalau kilas balik ke semester 5
kemarin, rasanya manis dikenang haram diulang. Terus ya dipikir-pikir kok bisa
ya dulu bisa begitu bergejolaknya emosi ini atau kok bisa ya akhirnya menjalani
itu semua. Ya semuanya sih balik lagi karena Allah serba bisa apalagi urusan
mengurusi hamba-Nya.
Dari awal tuh mungkin udah capek
duluan sama namanya urusan ospek. Disaat yang lain masih liburan, panitia ospek
yaaa rapat ospek dan hasil yang ga beres-beres waktu itu kerasanya lamaaaa
banget. Bahkan rangkaian ini berlangsung selama hampir 4 bulan. Jadi ospeknya
ga pas diawal perkuliahan tapi selama kuliah berjalan ospek pun berjalan terus.
Twitter mungkin menjadi saksi
bagaimana aku sangat-sangat overwhelmed karena mata kuliah satu ini. Dirasa
tuntutannya sangat banyak karena sering revisi terus, presentasi terus, pokoknya
pernah sampai jadi susah untuk tidur karena malamnya perlu mengerjakan tugas
yang satu ini. Bangun tidur, makan, abis sholat rasanya ga karuan karena
ngerjain ini terus. Kerja kelompok terus tiap minggu, bahkan mungkin setiap
mendekati pemaparan akan ada saat dimana kerja kelompok jadi terjadwalkan
setiap hari. Lelah. Sangat lelah. Aku pun menyadari bahwa akhirnya dengan
bekegiatan seperti ini membuat metabolisme tubuh aku jadi terganggu. Waktu jam
malam malah digunakan untuk mengerjakan tugas, dan paginya mencuri-curi
kesempatan untuk tidur. Belum dengan cerita perintilan lainnya.
Namun yang aku insyafi adalah
ketika aku melakukan seminar akhir saat aku akhirnya tersadar bahwa Studio ini
sebenarnya adalah yang harusnya membuka mata aku dengan lebar. Ada makna
tersembunyi dibalik seluruh rangkaian kisah ini. Studio ini memiliki makna yang
sangat luas yang mungkin hanya segelintir orang saja yang mendapatkan saripati
hikmah dari semuanya. Studio yang selalu ‘dimaki-maki’ karena banyak sekali
aturan yang mesti dijalani tanpa disadari bahwa mempunyai dampak yang besar
apabila ternyata dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam wilayah yang
direncanakan. Pemisalan ini dapat dirasakan ketika kita harus membuat zona disinsentif
di suatu wilayah. Waktu itu, di wilayahku sempat membuat zona disinsentif di zona
pemukiman tinggi di area rawan bencana alam. Zona ini perlu dipertimbangkan
sebagai zona disinsentif karena perlu adanya pembatasan pembanganan area pemukiman
lagi di zona tesebut agar masyarakat yang terkena dampak dari bencana alam
apabila terjadi bencana alam bisa dicegah dari awal dan dapat diperkirakan
tidak menimbulkan korban jiwa yang banyak dan kerugian yang besar.
Inilah yang aku harusnya sadari
betul dari awal bahwa semua tidak semata-mata ‘hanya merencanakan’ dan mungkin
bila aku sadari dari awal, aku mungkin saja tidak terlalu merasa terbebani
dengan mengikuti rangkaian kegiatan perkuliahan ini.
Harapanku kedepannya bisa serius
lagi untuk mempelajari berbagai macam materi perkuliahan ini, ada dampak besar
dari yang kita lakukan sekarang mungkin 5-10 tahun lagi terjawabkan dan jangan
lupa untuk selalu menyisipi makna dan manfaat dari seluruh kejadian yang telah
dilalui. Untuk semester 6, be better from before, k?