Rabu, 05 Februari 2020

Studio & Semester 5

Here we go!
Bismillah
Sebenarnya menulis ini adalah keinginanku yang sudah sangat lama dan ya... hanya saja butuh ‘effort’ untuk menulis ini a.k.a muager puool tapi kan ga boleh ya berlama-lama untuk mager karena seorang muslim itu hakikatnya sebagai musafir bergerak terus bergerak. Emang ya nih ada aja yang ngebisikin biar terus hanyut dalam kesia-siaan. Dasar aku. :)

Anyway, aku ingin sekali cerita tentang masa semester 5 ini yang weh ajigileee khaan maen rintangan dan tantangannya. Adaa aja yang bikin kesel, ada aja yang bikin marah, ada aja yang bikin kecewa, ada aja yang bikin sedih, dan ada juga yang bikin tertawa, ada pula yang bikin bahagiaa.

Kalau kilas balik ke semester 5 kemarin, rasanya manis dikenang haram diulang. Terus ya dipikir-pikir kok bisa ya dulu bisa begitu bergejolaknya emosi ini atau kok bisa ya akhirnya menjalani itu semua. Ya semuanya sih balik lagi karena Allah serba bisa apalagi urusan mengurusi hamba-Nya.
Dari awal tuh mungkin udah capek duluan sama namanya urusan ospek. Disaat yang lain masih liburan, panitia ospek yaaa rapat ospek dan hasil yang ga beres-beres waktu itu kerasanya lamaaaa banget. Bahkan rangkaian ini berlangsung selama hampir 4 bulan. Jadi ospeknya ga pas diawal perkuliahan tapi selama kuliah berjalan ospek pun berjalan terus. 

Ditambah lagi, di semester ini memasuki mata kuliah Studio 3 yang didalamnya terdapat pembelajaran tentang analisis dan rencana untuk wilayah di Kabupaten Pangandaran. Rasanya nano-nano karena permasalahannnya bukan hanya pusing banget sama materinya dan revisi all day long yang ga ada habis-habisnya ditambah berbagai permasalahan kelompok. Sebenarnya saat Studio 2 juga ada masalah tersendiri dengan internal kelompok, tapi kalo ini beda cerita dan aku sangat malas untuk mengurusinya. Awal-awal masih bisa aku handle pokoknya aku memaksakan bahwa kita semua tim yang harus terus bergerak, ga boleh ada yang ninggalin. Sampai akhirnya, makin lama semangat orang-orang makin menurun tapi progres hasil terus perbaikan agar meningkat. Aku sendiri sih ya hanya menjalani saja bagian tugasku namun perlu juga untuk memback-up untuk perihal yang kurang bagiannya. Mana selalu saja dibandingkan dengan kelompok lainnya. Kan jadi jiper. :”(( Ditambah keberadaan orang yang tak kunjung datang kabarnya. Dicari hilang, dikejar lari kata Maskun haha. Hal itu cukup menguras banyak emosi aku pada waktu itu.

Twitter mungkin menjadi saksi bagaimana aku sangat-sangat overwhelmed karena mata kuliah satu ini. Dirasa tuntutannya sangat banyak karena sering revisi terus, presentasi terus, pokoknya pernah sampai jadi susah untuk tidur karena malamnya perlu mengerjakan tugas yang satu ini. Bangun tidur, makan, abis sholat rasanya ga karuan karena ngerjain ini terus. Kerja kelompok terus tiap minggu, bahkan mungkin setiap mendekati pemaparan akan ada saat dimana kerja kelompok jadi terjadwalkan setiap hari. Lelah. Sangat lelah. Aku pun menyadari bahwa akhirnya dengan bekegiatan seperti ini membuat metabolisme tubuh aku jadi terganggu. Waktu jam malam malah digunakan untuk mengerjakan tugas, dan paginya mencuri-curi kesempatan untuk tidur. Belum dengan cerita perintilan lainnya.

Namun yang aku insyafi adalah ketika aku melakukan seminar akhir saat aku akhirnya tersadar bahwa Studio ini sebenarnya adalah yang harusnya membuka mata aku dengan lebar. Ada makna tersembunyi dibalik seluruh rangkaian kisah ini. Studio ini memiliki makna yang sangat luas yang mungkin hanya segelintir orang saja yang mendapatkan saripati hikmah dari semuanya. Studio yang selalu ‘dimaki-maki’ karena banyak sekali aturan yang mesti dijalani tanpa disadari bahwa mempunyai dampak yang besar apabila ternyata dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam wilayah yang direncanakan. Pemisalan ini dapat dirasakan ketika kita harus membuat zona disinsentif di suatu wilayah. Waktu itu, di wilayahku sempat membuat zona disinsentif di zona pemukiman tinggi di area rawan bencana alam. Zona ini perlu dipertimbangkan sebagai zona disinsentif karena perlu adanya pembatasan pembanganan area pemukiman lagi di zona tesebut agar masyarakat yang terkena dampak dari bencana alam apabila terjadi bencana alam bisa dicegah dari awal dan dapat diperkirakan tidak menimbulkan korban jiwa yang banyak dan kerugian yang besar.
Inilah yang aku harusnya sadari betul dari awal bahwa semua tidak semata-mata ‘hanya merencanakan’ dan mungkin bila aku sadari dari awal, aku mungkin saja tidak terlalu merasa terbebani dengan mengikuti rangkaian kegiatan perkuliahan ini.

Harapanku kedepannya bisa serius lagi untuk mempelajari berbagai macam materi perkuliahan ini, ada dampak besar dari yang kita lakukan sekarang mungkin 5-10 tahun lagi terjawabkan dan jangan lupa untuk selalu menyisipi makna dan manfaat dari seluruh kejadian yang telah dilalui. Untuk semester 6, be better from before, k?